INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

Kata-Kata Setelah 28 Tahun Reformasi

Amicus Curiae dan Penahanan Aktivis: Saluran Publik di Tengah Kebebasan yang Menyempit
Rabu, 20 Mei 2026

Febrian Nugroho M.Ikom
(Anggota Badan Pelaksana Forum Aktivis 98)

Reformasi 1998 sudah dua puluh delapan tahun lalu, saat ini kita hidup dalam ruang publik yang jauh lebih terbuka. Lebih bebas, karena lebih penuh pendapat. Ruang bebas ini lahir dari keberanian berkata-kata, keberanian intelektual, keberanian mahasiswa, aktivis, jurnalis hingga warga biasa untuk mengambil resiko ditangkap, mendapatkan ancaman, kekerasan bahkan kehilangan nyawa untuk membuka ruang demokrasi.

Namun kebebasan yang luas itu kini berubah menjadi kebisingan. Arus informasi yang deras, polarisasi politik yang tajam, dan banjir opini yang tak berkesudahan justru meminggirkan keberanian berkata-kata. Membenamkan keberanian yang menjadi fondasi Reformasi, keberanian kata-kata menyatakan kebenaran saat kebenaran itu tidak menguntungkan siapa pun yang berkuasa kini terasa semakin jarang. Ruang publik memang terbuka, tetapi keberanian tidak otomatis tumbuh di dalamnya.

Michel Foucault (1983) menyebut tentang parrhesia atau keterusterangan dalam berbicara kebenaran tindakan dalam bentuk kata-kata secara terus terang meskipun tahu bahwa kata-katanya dapat mendatangkan bahaya. Parrhesia bukan hanya sekedar keberanian berbicara, bukan hanya berbicara lantang, ia adalah tindakan etis: seseorang mengatakan apa yang diyakininya benar, meski ia tahu konsekuensinya bisa kehilangan posisi, reputasi, atau bahkan keselamatan. Tanpa resiko, keberanian itu tidak lebih dari retorika. Tanpa pertaruhan, kata-kata kehilangan bobot moralnya.

Dalam konteks Indonesia, risiko itu nyata. Sejarah kita mencatat di era sebelum reformasi  suara-suara kritis sering kali dibungkam, disisihkan, atau dipinggirkan. Di masa orde baru yang dilakukan oleh mahasiswa, aktivis, jurnalis dan warga biasa adalah tindakan seorang intelektual, saat mereka berani mengungkapkan kebenaran dengan kata-kata meski tahu besarnya resiko yang harus mereka sandang. Seorang intektual ditentukan bukan oleh profesi atau status sosialnya. Intelektual adalah soal praktik kebenaran dan tentang keberanian mengatakan kebenaran yang berbahaya.

Keberanian serupa ditunjukan oleh kaum intelektual di Indonesia pada awal berdirinya republik. Generasi yang oleh J.D. Legge (1993) dikatakan bukan hanya sebagai penghasil gagasan, tetapi juga penjaga moralitas publik. Mereka menulis, mereka berkata-kata,  berdebat bukan demi sorak-sorai, dan mereka mengorganisasi diri bukan demi popularitas. Mereka bergerak karena harapan akan masa depan, dalam ketidakpastian, di bawah ancaman kekuasaan kolonial, tekanan politik internal, dan keterbatasan sumber daya. Namun justru dalam kondisi semacam itu  keberanian mereka diuji. Tidak menunggu situasi ideal datang untuk bersuara, dengan berani mereka menciptakan ruang bagi kebenaran.

Reformasi 1998 melahirkan demokrasi yang justru tidak menjadi ruang subur bagi keberanian intelektual. Ruang publik memang jauh lebih terbuka dibanding masa lalu, akan tetapi  tidak otomatis melahirkan keberanian. Justru di tengah kebebasan berbicara yang lebih luas, keberanian intelektual sering kali terasa semakin sulit ditemukan. Demokrasi kita saat ini terperangkap dalam logika elektoral, menciptakan tekanan baru: tekanan untuk menyenangkan publik. Popularitas menjadi kompas baru, menggantikan integritas. Keberanian untuk menyampaikan kebenaran yang tidak menyenangkan di telinga publik sering kali dikalahkan oleh kebutuhan untuk tetap disukai. Keberanian untuk menyampaikan pandangan yang tidak populer menjadi semakin jarang.

Di sisi lain, kekuasaan belum sepenuhnya berubah watak. Kritik masih kerap dibalas dengan kekerasan, stempel negatif, atau kriminalisasi. Sementara itu, ruang kebebasan yang terbuka juga melahirkan ancaman baru: pembunuhan karakter, serangan digital, dan perundungan massal yang bisa menghantam siapa saja yang berani berkata-kata. Risiko itu tidak lagi datang dari satu pusat kekuasaan, dan bukan hanya soal melawan kekuasaan negara, tetapi juga melawan tekanan opini publik yang sering kali tidak kalah represif. Kekuasaan kini tidak selalu hadir dalam bentuk sepatu lars dan laras senjata. Kadang ia hadir dalam dengung buzzer, potongan video manipulatif, dan algoritma yang memelihara kebencian.

Keberanian intelektual bukanlah keberanian untuk memaksakan sebuah tafsir kebenaran, tetapi keberanian untuk membebaskan kebenaran dari kepentingan. Ia adalah keberanian untuk menjaga jarak dari kekuasaan, sekaligus keberanian untuk mendekat kepada publik tanpa harus tunduk pada selera publik. Keberanian intelektual adalah keberanian yang membebaskan: membebaskan publik dari ketakutan, membebaskan kebenaran dari manipulasi, dan membebaskan intelektual dari godaan menjadi alat kekuasaan.

Hari ini kita memang memiliki kebebasan berbicara, tetapi tidak selalu berani. Tugas intelektual bukan sekadar menganalisis, tetapi haruslah berkata-kata dan mengambil posisi. Meski tidak popular, tidak menguntungkan, atau tidak aman. Semakin banyak intelektual yang bersuara bukan dari nurani, tetapi dari kalkulasi. Kata-kata mereka diukur dan diatur, bukan diarahkan untuk menjadi kompas moral publik. Mereka lebih sibuk menjaga posisi daripada menjaga kebenaran. Parrhesia bukan sekedar bicara atau bersuara, yang dibutuhkan adalah kata-kata yang berani.

Mahasiswa harus berkata-kata, akademisi tidak bisa berdiam diri dalam posisi aman. Para jurnalis tidak bisa memilih netralitas sebagai alasan, bukan sebagai prinsip. Warga masyarakat juga harus beranjak dari diam dan kembali berani. Keberanian yang berisiko bukanlah ajakan untuk menjadi martir. Ia adalah ajakan untuk berani mengatakan kebenaran. Pada diri sendiri, pada publik, dan berani mengatakan kebenaran pada sejarah. Karena sejarah ditulis oleh mereka yang berani, bukan mereka yang mengejar rasa aman.

Reformasi mewariskan keberanian, ia tidak membutuhkan pahlawan baru. Ia membutuhkan orang-orang yang bersedia menjadi penunjuk arah. Penunjuk arah tidak memaksa, tidak mencari panggung, dan tidak mencari tepuk tangan, hanya menunjukan arah dan keberanian untuk berkata tentang kebenaran. Dua puluh delapan tahun setelah Reformasi, tugas kita bukan merayakan kebebasan, melainkan menghidupkan kembali keberanian yang melahirkan kebebasan itu. Reformasi hanya akan bertahan jika ada keberanian. Tanpa keberanian, demokrasi hanya akan menjadi prosedur; tanpa risiko, kebebasan hanya akan menjadi hapalan.  Seperti yang diingatkan oleh WS Rendra, keberanian itu bukan sekedar kata-kata, keberanian adalah pelaksanaan kata-kata.

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Satresnarkoba Banyumas Bongkar Peredaran Obat Keras, 1.130 Butir Diamankan dari Tangan FH

POPULER BULAN INI

Sekda Banyumas: Pemkab Tunggu Surat Resmi DPRD Soal Tunjangan

Sekda Banyumas Buka Suara soal Polemik Lelang Parkir GOR Satria: Pemenang Bukan Sekadar Penawar Tertinggi

Kamis, 26 Februari 2026

PT Solusi Parkir Nusantara Menang Kerjasama Pengelolaan Parkir GOR Satria Purwokerto

Lelang Parkir GOR Satria: Sanggahan PT AKAS Gugur Hanya Gegara Salah Alamat

Kamis, 26 Februari 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Kamis, 26 Februari 2026

TERBARU

Amicus Curiae dan Penahanan Aktivis: Saluran Publik di Tengah Kebebasan yang Menyempit

Kata-Kata Setelah 28 Tahun Reformasi

Rabu, 20 Mei 2026

Satresnarkoba Banyumas Bongkar Peredaran Obat Keras, 1.130 Butir Diamankan dari Tangan FH

Satresnarkoba Banyumas Bongkar Peredaran Obat Keras, 1.130 Butir Diamankan dari Tangan FH

Selasa, 19 Mei 2026

Dilantik Jadi Ketua Mabicab, Sadewo Siapkan Pramuka Banyumas Pecahkan Rekor MURI

Dilantik Jadi Ketua Mabicab, Sadewo Siapkan Pramuka Banyumas Pecahkan Rekor MURI

Selasa, 19 Mei 2026

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com