Angga Saputra
Pimred Indiebanyumas
Lebih dari empat dekade setelah kepergiannya, nama Bob Marley belum pudar. Justru semakin membesar. Penyanyi reggae asal Jamaika ini tidak hanya dikenang karena goyangan khasnya, tetapi juga karena lirik-lirik perlawanan yang membakar semangat perubahan sosial. Buktinya? Album kompilasi Legend (1984) masih terjual lebih dari 250.000 kopi per tahun.
Bob Marley meninggal dunia pada 11 Mei 1981 akibat kanker yang menyebar ke seluruh tubuhnya. Namun, pengaruhnya terhadap budaya global terasa abadi. Pria yang dijuluki Tuff Gong karena kemampuan berkelahi di jalanan itu, kini dihormati dengan bintang di Hollywood Walk of Fame (2001) dan menjadi ikon perdamaian dunia.
Eksodus Menuju Bintang Internasional
Karier Bob melesat pada 1976 lewat album Rastaman Vibration yang menembus posisi ke-8 Billboard Top 200. Lagu “War” yang liriknya diadaptasi dari pidato Kaisar Ethiopia Haile Selassie I di PBB, menjadi anthem kesetaraan yang tak tergoyahkan.
Namun, ketenaran juga membawa petaka. Dua hari sebelum konser damai Smile Jamaica pada Desember 1976, rumah Bob di Kingston diberondong peluru. Ia lolos dengan luka ringan. Sang istri, Rita, harus menjalani operasi peluru di kepala. Meski demikian, Bob tetap naik panggung membawakan “War” di hadapan 80.000 orang.
Usai peristiwa itu, Bob hijrah ke London selama 14 bulan. Di sana ia melahirkan album Exodus (1977) yang bertahan 56 minggu di tangga lagu Inggris. Lagu utama “Exodus” dan “Jamming” menjadi hit 10 besar.
Momen paling bersejarah terjadi pada 22 April 1978. Dalam One Love Peace Concert di Kingston, Bob memanggil dua pemimpin politik yang berseteru—Michael Manley (PNP) dan Edward Seaga (JLP)—ke atas panggung. Dengan iringan “Jamming”, Bob menggenggam tangan mereka dan mengangkatnya tinggi sambil berteriak “JAH Rastafari”. Aksi berani itu membuatnya menerima Medali Perdamaian dari PBB pada 15 Juni 1978.

Akhir Perjalanan di Pittsburgh
Konser terakhirnya di Pittsburgh hanya dua hari setelah Bob mengetahui bahwa kanker di jempol kakinya telah bermetastasis. Ia bertahan selama delapan bulan, sempat berobat ke Jerman, namun akhirnya menghembuskan napas terakhir di Miami pada 11 Mei 1981.
Pemerintah Jamaika memberinya pemakaman kenegaraan dengan gelar The Honorable Robert Nesta Marley OM. Ratusan ribu orang memadati jalanan dari Kingston menuju tempat peristirahatan terakhirnya di Nine Miles.
Bob Marley tidak pernah meraih Grammy seumur hidup. Namun pada 2001, Recording Academy memberinya Grammy Lifetime Achievement Award. Di tahun yang sama, namanya diabadikan di Hollywood Walk of Fame sebagai bintang ke-2.171.
Pada 2006, nama Bob Marley diabadikan menjadi Bob Marley Boulevard di Brooklyn, New York, sepanjang delapan blok. Acara Late Night with Jimmy Fallon pun pernah mendedikasikan satu pekan penuh untuk musiknya.

Dari Rhodesia ke Zimbabwe
Salah satu pengaruh terbesar Bob terjadi di Afrika. Pada 18 April 1980, saat Rhodesia merdeka dan berganti nama menjadi Zimbabwe, kata-kata pertama yang diucapkan secara resmi di negara baru itu adalah: “Hadirin sekalian, Bob Marley and The Wailers.”
Polisi bahkan harus menggunakan gas air mata untuk mengendalikan puluhan ribu penonton yang ingin melihat Bob membawakan lagu “Zimbabwe”. “Ada asap di mana-mana, mata kami penuh air mata,” kenang Marcia Griffiths, salah satu vokalis latar I-Threes. “Keesokan harinya Bob hanya tersenyum dan berkata: ‘Sekarang kita tahu siapa revolusioner sejati.'”
Trench Town dan Awal Mula Segalanya
Bob Marley tumbuh di Nine Miles, lalu pindah ke Trench Town, Kingston, wilayah kumuh yang dibangun di atas parit limbah. Di sanalah ia belajar bertahan dari preman dan mendapatkan julukan Tuff Gong. Meski keras, Trench Town kaya akan budaya dan menjadi inspirasi lagu-lagunya seperti “No Woman No Cry” (1974) dan “Trench Town Rock” (1975).
Pada awal 1960-an, musik ska mulai lahir di Jamaika. Bob kecil yang putus sekolah pada usia 14 tahun awalnya diminta ibunya, Cedella, untuk menekuni keahlian. Namun takdir berkata lain. Ia bertemu dengan Chris Blackwell dari Island Records yang memberinya uang muka £4.000—jumlah fantastis untuk musisi Jamaika saat itu.
Dari gang sempit Trench Town hingga panggung dunia, Bob Marley membuktikan bahwa gitar bisa menjadi senjata paling ampuh untuk melawan penindasan. Seperti yang terpahat pada patungnya di Serbia: “Bob Marley, Pejuang Kebebasan, Bersenjata Gitar.”






