INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

Menjaga “Nafas” Demokrasi: Mengapa Penyelenggara Pemilu Tak Boleh Rehat di Masa Non-Tahapan?

Menjaga “Nafas” Demokrasi: Mengapa Penyelenggara Pemilu Tak Boleh Rehat di Masa Non-Tahapan?
Jumat, 24 April 2026

Andika Asykar
(Mahasiswa S2 Ilmu Politik Undip)

Banyak orang mengira demokrasi itu hanya soal apa yang terjadi di hari pencoblosan. Padahal, kualitas demokrasi kita justru diuji saat hiruk-pikuk pemilu sudah reda. Masa “istirahat” atau non-tahapan ini sering dianggap sebagai waktu kosong bagi KPU atau Bawaslu. Ini sebuah kekeliruan besar. Justru di masa non tahapan inilah, pondasi demokrasi harus diperkuat agar tidak roboh saat kontestasi pemilu berikutnya datang.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Robert A. Dahl (1971) yang menegaskan bahwa demokrasi bukan sekadar peristiwa elektoral, melainkan proses berkelanjutan yang menuntut responsivitas institusi terhadap warga. Dalam kerangka tersebut, pemilu hanyalah salah satu episode, bukan keseluruhan cerita. Artinya, ketika penyelenggara pemilu berhenti bekerja di luar tahapan, maka yang terhenti bukan hanya aktivitas kelembagaan, tetapi juga denyut demokrasi itu sendiri.

Bukan Sekadar Masa Libur

Setelah pemilu usai, perhatian publik biasanya langsung hilang. Ironisnya, di internal lembaga pun kadang muncul perasaan “tugas sudah selesai”. Padahal, masa non-tahapan adalah momen emas untuk melakukan refleksi dan kontemplasi. Di sinilah penyelenggara pemilu harus berani “bongkar mesin”—melihat kembali apa yang rusak, mana regulasi yang perlu dikaji ulang, dan di mana celah kecurangan yang kemarin sempat lolos.

Dalam perspektif konsolidasi demokrasi, Juan J. Linz dan Alfred Stepan (1996) menekankan bahwa demokrasi hanya akan stabil jika institusi-institusi utamanya bekerja secara efektif, otonom, dan berkelanjutan. Stabilitas demokrasi tidak dibangun dalam satu hari pemungutan suara, melainkan melalui kerja institusional yang konsisten, termasuk pada masa non-tahapan. Dengan kata lain, masa ini justru menjadi ruang strategis untuk memperkuat legitimasi dan kepercayaan publik terhadap penyelenggara pemilu.

Investasi pada Manusia dan Sistem

Masalah klasik pemilu kita seringkali berakar pada kualitas sumber daya manusia penyelenggara pemilu, terutama di daerah. Kita tidak bisa berharap pemilu yang berintegritas jika petugasnya baru dilatih secara kilat saat tahapan dimulai. Masa non-tahapan seharusnya menjadi kawah candradimuka untuk meningkatkan kapasitas, khususnya di jajaran sekretariatan—bukan hanya dalam aspek teknis administrasi, tetapi juga dalam pembangunan integritas dan etika kelembagaan.

Hal ini sejalan dengan pandangan Samuel P. Huntington (1968) yang menekankan bahwa stabilitas politik sangat ditentukan oleh kekuatan institusi. Institusi yang lemah hanya akan melahirkan demokrasi yang rapuh, bahkan rentan terhadap disfungsi dan delegitimasi. Oleh karena itu, investasi pada peningkatan kapasitas SDM di masa non-tahapan bukanlah pilihan, melainkan keharusan.

Selain itu, literasi politik masyarakat tidak bisa hanya digenjot melalui spanduk atau sosialisasi singkat menjelang hari pemungutan suara. Pendidikan pemilih merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan pendekatan berkelanjutan. Dalam hal ini, Larry Diamond (1999) menekankan pentingnya civic culture sebagai fondasi demokrasi yang sehat—yakni masyarakat yang sadar, kritis, dan aktif berpartisipasi.

Bagaimana mungkin kita berharap masyarakat mampu melawan hoaks dan politik uang jika edukasi hanya dilakukan secara musiman? Penyelenggara pemilu harus hadir sebagai mitra dialog warga setiap saat, termasuk melalui media sosial yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat.

Tantangan di Masa Non-Tahapan

Kita harus jujur, tantangan terbesar justru sering muncul di masa non-tahapan. Salah satu persoalan utamanya adalah minimnya anggaran. Begitu pemilu selesai, alokasi anggaran biasanya menurun drastis. Penyelenggara pemilu dituntut untuk tetap menjaga eksistensi dan kinerja, meski tanpa dukungan sumber daya yang memadai.

Dalam konteks ini, Andreas Schedler (2002) mengingatkan bahwa ancaman terhadap demokrasi tidak selalu hadir dalam bentuk kecurangan terbuka saat pemilu, tetapi juga melalui pelemahan institusi secara perlahan di luar momentum elektoral. Salah satunya adalah melalui pembatasan sumber daya yang membuat lembaga tidak mampu menjalankan fungsinya secara optimal.

Selain itu, rendahnya minat masyarakat terhadap isu kepemiluan di masa non-tahapan juga menjadi tantangan tersendiri. Ini menciptakan paradoks: di saat penyelenggara pemilu perlu melakukan konsolidasi demokrasi, justru perhatian publik sedang berada pada titik terendah. Di sinilah kreativitas dan inovasi menjadi kunci agar demokrasi tetap relevan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kesimpulan

Singkatnya, konsolidasi demokrasi itu ibarat merawat tanaman; tidak bisa hanya disiram saat hendak dipanen. Masa non-tahapan adalah waktu untuk memupuk, merawat, dan mencabut gulma yang berpotensi merusak. Jika penyelenggara pemilu hanya aktif saat tahapan dimulai, maka demokrasi kita akan selamanya terjebak dalam seremoni lima tahunan yang dangkal.

Sebagaimana ditegaskan oleh para ilmuwan politik, demokrasi yang kuat tidak hanya ditentukan oleh prosedur elektoral, tetapi oleh keberlanjutan kerja institusi dan kualitas partisipasi warganya. Sudah saatnya kita mengubah sudut pandang: masa non-tahapan bukanlah masa jeda, melainkan fase persiapan paling menentukan. Jika pondasinya kuat di sini, maka pemilu yang berkualitas bukan lagi sekadar angan-angan, melainkan keniscayaan.

Daftar Pustaka

Dahl, Robert A. Polyarchy: Participation and Opposition. New Haven: Yale University Press, 1971.
Diamond, Larry. Developing Democracy: Toward Consolidation. Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1999.
Huntington, Samuel P. Political Order in Changing Societies. New Haven: Yale University Press, 1968.
Linz, Juan J., dan Alfred Stepan. Problems of Democratic Transition and Consolidation: Southern Europe, South America, and Post-Communist Europe. Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1996.
Schedler, Andreas. “The Menu of Manipulation.” Journal of Democracy 13, no. 2 (2002).

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Kejari Purwokerto Kirim 6 Karateka Terbaik Banyumas ke Kejuaraan Nasional “Wira Adhyaksa” 2026 di Semarang

Selanjutnya

Mahasiswa Dibekali Keselamatan Berkendara, Satlantas Polresta Banyumas Gelar Sosialisasi di Kampus

TERBARU

Siap-siap Sepi? Rencana PJJ Penuh di Purwokerto Bikin UMKM Takut Kehilangan Pembeli

Siap-siap Sepi? Rencana PJJ Penuh di Purwokerto Bikin UMKM Takut Kehilangan Pembeli

Minggu, 26 April 2026

Pinjam Bendera Berujung Bencana: Bos PT Mahagra Tanggung Utang Pajak Proyek Orang Lain

Tagih Utang Pajak Proyek 2016 ke Mantan Bupati, Direktur PT Mahagra Malah Dipanggil Polisi atas Dugaan Fitnah

Minggu, 26 April 2026

5 Kedai Ramen di Purwokerto, dari Cita Rasa Autentik hingga Fusi Kekinian

5 Kedai Ramen di Purwokerto, dari Cita Rasa Autentik hingga Fusi Kekinian

Minggu, 26 April 2026

POPULER BULAN INI

Dugaan Penganiayaan Mahasiswa Unsoed Berbalut Kasus Kekerasan Seksual, Kampus: Korban Justru Terlapor

Dugaan Penganiayaan Mahasiswa Unsoed Berbalut Kasus Kekerasan Seksual, Kampus: Korban Justru Terlapor

Rabu, 22 April 2026

Jambret Tengah Malam di Purwokerto Barat Bikin Korban Tak Sadarkan Diri, Pelaku Akhirnya Ditangkap

Jambret Tengah Malam di Purwokerto Barat Bikin Korban Tak Sadarkan Diri, Pelaku Akhirnya Ditangkap

Selasa, 14 April 2026

Banyumasan Guyub Fest 2026 Siap Obati Rindu Perantau di Ibu Kota

Banyumasan Guyub Fest 2026 Siap Obati Rindu Perantau di Ibu Kota

Sabtu, 4 April 2026

Selanjutnya
Mahasiswa Dibekali Keselamatan Berkendara, Satlantas Polresta Banyumas Gelar Sosialisasi di Kampus

Mahasiswa Dibekali Keselamatan Berkendara, Satlantas Polresta Banyumas Gelar Sosialisasi di Kampus

18.313 Peserta UTBK di Unsoed, Mayoritas Akui Soal Penalaran Paling Bikin Pusing

18.313 Peserta UTBK di Unsoed, Mayoritas Akui Soal Penalaran Paling Bikin Pusing

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com