INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

Generasi Embuh

Generasi Embuh
Sabtu, 21 Februari 2026

Rangga Sujali
Penulis, Tinggal di Pulau Dewata

Beruntungnya generasi saya. Kecil masih bernyanyi dan bermain dolanan anak. Cungko-cungko, Jaranan, Sluku-sluku Bathok, Cung-cung Kecubung dengan gerak dan lagu seserhana. Berlarian di pematang sawah, sesekali seolah kecelakaan, padahal disengaja main lumpur.

Ke sekolah dengan aneka keterbatasan. Baju putih seragam kami nyaris pudar, semu kekuningan. Karena ibu mencuci di kali dengan sabun Sunlight, pun kalau mau agak cerah harus dicelup Blao. Sabun legendaris, multifungsi. Beberapa teman menggunakan untuk mandi, karena Lux, Camay, Palmolive atau Lifeboy terlalu mahal saat itu. Satu-dua di antara kami yang bajunya disetrika, dengan setrikaan jago berbahan-bakar arang. Malang jika musim hujan, baju yang tak kering benar, atau arang yang susah menjadi bara. Jika setrikaan terlalu panas, maka akan tercium bau wangi daun pisang, sebagai pereduksi over heat.

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertisement Advertisement Advertisement

Sekolah dengan aneka keterbatasan. Bahkan tidak sempat berfikir cita-cita. Hanya bahagia bisa bertemu teman. Uang saku seadanya, dan lebih sering berjalan kaki satu dua kilometer untuk menghemat pengeluaran. Mode adalah kemewahan yang hanya dapat dilihat di televisi tabung, yang lebih besar kotak ketimbang layarnya. Sepatu Bigbos semasa SMP dan Warior semasa SMA, harus kuat tiga taun. Pulang sekolah pakai kaos dan celana seadanya. Levi’s atau jeans adalah karunia luar biasa dan butuh perjuangan ekstra untuk memakainya.

Beruntung kala itu berbekal ijazah SMA pun masih bisa mendapat pekerjaan yang layak. Lebih lagi kalau mau menabung untuk kuliah. Daya survival tentu lebih bagus. Hanya kami salah mendidik kalian anak-anak kami. Dendam atas kemiskinan waktu kecil, sebisa mungkin tidak kalian rasakan. Makan dengan penuh gizi, sekolah dengan fasilitas cukup, tinggal berpacu dengan prestasi. Harus kalian merasa malu, jika semua telah terpenuhi tapi tak kunjung berprestasi

Generasi kami keren. Mengalami jaman yang paling susah. Malam belajar pakai teplok, lampu petromax, berangsur berganti menjadi bohlam kuning, lampu neon, di tua kami merasakan terangnya LED.

Di telekomunikasi, kami pernah berkirim surat kepada pacar, dengan kertas surat yang wangi dan sampun bergambar bunga. Jika dekat dititipkan ke teman atau cukup diselipkan di buku si dia. Jika jauh, maka kami harap-harap cemas menunggu Pak Pos dengan seragam orange mengantar surat balasan. Media massa kala itu membuat kami kreatif. Menulis cerita pendek atau puisi dengan mesin ketik Brother, berpita hitam dan merah, pun pinjam dari kantor desa. Lalu dikirim ke redaksi majalah MOP atau Anita Cemerlang. Tak penting honor, ada kebanggaan ketika naskah itu dimuat. Sesekali berkirim salam dan lagu lewat radio. Menonton The Six Million Dolar Man atau Laura di TVRI. Lalu industri televisi begitu marak. Kami merasakan dari televisi hitam putih sampai teknologi mutahir LCD dan LED.

Kuceritakan bahwa dulu ada telpon produk Telkom. Hanya orang mampu yang bisa memanfaatkan fasilitas ini di rumah. Era 93-an ada pager, teknologi komunikasi satu arah. Masa itu telpon umum koin dimana-mana. Ada pula wartel dengan antrian panjang, karena harus bergantian. 1994 muncul handphone AMPS yang besar, berat, dan teramat mahal. 1995 muncul hp dengan teknologi GSM. Fisiknya besar, layarnya monocrom, deringnya seperti jangkrik. 2004 akhir ada teknologi mengejutkan yakni Blackberry. Lalu 2009 muncul mahluk aneh yang bernama android. Masih dalam aneka keterbatasan. Tapi sisi ekonomis benda ini luar biasa.

Lalu hari ini, berapa harga androidmu? Sangat murah. Karena di situ ada kalender, kalkulator, jam, tape recorder, kamera, video player, televisi, majalah, koran, peta, penunjuk jalan, toko, restoran, kurir, kecuali kulkas dan AC tidak ada di situ. Perangkat audio visual yang keren dan murah.

Jika dulu untuk mengabadikan sebuah momen, kalian harus punya kamera, film (12, 24, atau 36 frame), batre untuk penggerak penggulung dan flash. Selesai memotret harus dicuci menjadi film negatif. Baru kemudian dicetak menjadi foto hitam putih atau berwarna. Butuh keahlian untuk mendapat foto yang bagus, karena tidak bisa diulang atau dihapus. Untuk 36 frame butuh biaya sekitar Rp. 150 ribu. Sekarang, banyak balita yang sudah bisa memegang android dan memotret.

Banyak benda yang belakangan hanya ornamen. Radio, TV tabung, jam tangan, kalender, video player, tape recorder, nyaris kalian tak sentuh. Komik, koran, majalah, entah kapan terakhir kalian pegang.

Kini semua menunduk. Jika evolusi itu terjadi dengan singkat, maka kalian akan menjadi mahluk aneh. Hanya besar di bagian kepala, perut, dan jempol. Kaki mengecil karena jarang berjalan. Muka pucat karena jarang kena mata hari. Mata melotot karena 15 jam dalam sehari menatap gadget.

Serem..

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Save Slamet Surati Bupati Brebes: Tuntut Tindak Tegas Alih Fungsi Hutan Lindung

Selanjutnya

Kasus Dugaan Pemukulan Remaja di Pekuncen Berakhir Damai Lewat Mediasi Polisi

Eric Erlangga: Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1447H

TERBARU

Kapolresta Banyumas: Kriminalitas Meningkat, Patroli Malam dan Satkamling Diperkuat

Kasus Dugaan Pemukulan Remaja di Pekuncen Berakhir Damai Lewat Mediasi Polisi

Sabtu, 21 Februari 2026

Generasi Embuh

Generasi Embuh

Sabtu, 21 Februari 2026

Save Slamet Surati Bupati Brebes: Tuntut Tindak Tegas Alih Fungsi Hutan Lindung

Save Slamet Surati Bupati Brebes: Tuntut Tindak Tegas Alih Fungsi Hutan Lindung

Sabtu, 21 Februari 2026

POPULER BULAN INI

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Jumat, 6 Februari 2026

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Selasa, 3 Februari 2026

Prosesi Kirab Pusaka Hari Jadi Banyumas ke-455 Digelar Minggu, Ini Rutenya

Prosesi Kirab Pusaka Hari Jadi Banyumas ke-455 Digelar Minggu, Ini Rutenya

Jumat, 13 Februari 2026

Selanjutnya
Kapolresta Banyumas: Kriminalitas Meningkat, Patroli Malam dan Satkamling Diperkuat

Kasus Dugaan Pemukulan Remaja di Pekuncen Berakhir Damai Lewat Mediasi Polisi

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com