Sebuah bangunan tua di kawasan Kota Lama, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, kini tak lagi sekadar menyisakan cerita masa lalu. Bekas rumah dinas Kepala Rumah Tahanan Negara (Rutan) Banyumas itu bertransformasi menjadi kafe bernama Griya Abipraya, sebuah ruang usaha yang juga menjadi pusat pemberdayaan bagi warga binaan.
Tak seperti kafe pada umumnya, tempat ini dikelola oleh Kriya Abibraya Kota Lama Banyumas berkolaborasi dengan Bapas Purwokerto dan kelompok masyarakat peduli pemasyarakatan. Para pegawai di sini adalah klien pemasyarakatan yang telah mendapatkan disposisi dan menjalani masa asimilasi. Mereka kembali produktif, mengisi waktu dengan kegiatan positif di tengah masyarakat.
Wahyu Baharudin, pengelola Griya Abipraya, mengatakan bahwa kehadiran tempat ini bukan semata tentang mencari keuntungan.
“Kami ingin menghadirkan ruang usaha yang bernilai ekonomi sekaligus sosial. Harapan kami, kehadiran tempat ini bisa mengubah stigma masyarakat terhadap mantan narapidana. Kami ingin menunjukkan bahwa mereka mampu bekerja, mandiri, dan memberikan pelayanan terbaik,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Selasa (17/2/2026).
Para warga binaan diberdayakan di sejumlah bidang. Ada yang bertugas di layanan cuci mobil dan motor, ada pula yang terjun langsung mengelola dapur dan pelayanan kafe. Suasana kekeluargaan terasa kental ketika para pekerja saling bahu-membahu melayani pengunjung yang datang silih berganti.
Salah satu pekerja, Tetuko, mengaku bersyukur mendapat kesempatan ini. Setelah menjalani asimilasi, ia kini kembali bekerja—berbekal pengalaman di bidang food and beverage saat merantau di Jakarta.
“Di sini saya belajar banyak, tidak hanya soal menyiapkan pesanan, tapi juga bagaimana berinteraksi dengan pelanggan. Ke depan, saya ingin punya usaha sendiri dari ilmu yang saya dapat di sini,” tuturnya penuh semangat.
Kafe ini menawarkan beragam menu dengan harga ramah kantong, mulai dari Rp8.000 hingga Rp20.000. Menu andalan seperti sop daging kulit sapi atau “kultik”, nasi goreng, dan aneka hidangan hangat lainnya menjadi favorit pelanggan terutama saat musim hujan atau menjelang waktu berbuka puasa. Dalam sehari, penjualan menu unggulan bisa mencapai 30 hingga 40 porsi.
Lokasinya yang strategis di pusat kota, tepat bersebelahan dengan Rutan Banyumas, membuat kafe ini mudah diakses. Handayani, salah satu pelanggan, mengaku baru pertama kali mencoba sop kultik di tempat ini.
“Rasa kuahnya segar, dagingnya empuk. Harganya juga murah, cocok buat kantong mahasiswa. Yang bikin tambah nyaman, pelayanannya ramah,” ujarnya.
Program pemberdayaan ini diharapkan menjadi jembatan bagi mantan narapidana untuk kembali diterima di lingkungan sosial. Pengelola optimistis, dengan kesempatan dan dukungan bersama, warga binaan mampu bangkit, mandiri, dan berkontribusi positif bagi masyarakat.
Kafe Griya Abipraya pun menjadi bukti nyata: sebuah bangunan tua tak hanya berganti fungsi, tapi juga melahirkan harapan baru. (Alri Johan)









