PURWOKERTO – Polemik dugaan tindakan amoral yang melibatkan seorang oknum dosen di lingkungan UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto (UIN SAIZU) kembali mencuat ke publik.
Ketua Dewan Pembina Alumni UIN SAIZU, KH. Imam Tobroni, mendesak pimpinan universitas bersikap tegas.
Hal itu disampaikan Tobroni, Minggu malam (15/2/2026) saat dihubungi media melalui sambungan suara dengan media.
KH. Imam Tobroni yang juga Ketua PW Pojok Baca Nahdiyin Jawa Tengah itu menilai kasus tersebut telah mencoreng nama baik kampus Islam negeri di Kota Purwokerto.
“Ini sudah melampaui batas kepatutan. Tidak mencerminkan akhlak dan tanggung jawab moral seorang dosen di perguruan tinggi yang harusnya menjunjung etika serta moral akademis. Dunia kampus harus dijaga marwahnya,” tegasnya.
Ia menambahkan, kampus tidak hanya menjadi ruang transfer ilmu, tetapi juga tempat pembinaan karakter dan keteladanan. Karena itu, ia mendesak rektor segera mengambil tindakan tegas.
“Saya berharap rektor segera bertindak sesuai ketentuan. Penegakan aturan adalah harga mati demi menjaga integritas lembaga,” tandasnya.
Menindaklanjuti pernyataan tersebut, Ketua Tim Humas UIN SAIZU, Safrudin Aziz mengakui bahwa apa yang dilakukan oknum dosen telah merugikan institusi.
“Kasus ini dilakukan oleh oknum dosen dan sangat merugikan institusi kampus yang tengah membangun reputasi dengan berbagai prestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Safrudin kepada media.
Ia menjelaskan, dugaan pelecehan seksual tersebut merupakan kasus lama yang terjadi pada tahun 2024. Prosesnya, kata dia, telah ditangani melalui mekanisme internal kampus.
“Kami telah melakukan penegakan disiplin dan menjatuhkan sanksi aetik atas pelanggaran kode etik dosen,” tegasnya.
Safrudin menambahkan, jika perkara tersebut berlanjut ke ranah pidana, maka hal itu menjadi domain pribadi para pihak sebagai subjek hukum. Pihaknya mengaku mendukung upaya penegakan hukum demi keadilan bagi semua pihak.
Tak lupa, ia mengapresiasi perhatian dari berbagai kalangan. “Kami mengucapkan terima kasih atas doa dan dukungan moral dari Ketua Dewan Pembina Alumni serta seluruh pihak yang peduli. Semoga Allah membimbing kita menjaga amanah, memperkuat integritas, dan menegakkan keadilan dengan hati yang jernih,” ujarnya.
KH. Imam Tobroni berharap peristiwa ini menjadi bahan refleksi bagi seluruh civitas akademika. Ia mengingatkan agar tidak ada lagi sikap arogansi terhadap mahasiswa.
“Peristiwa ini harus jadi pembelajaran. Hubungan akademik harus dibangun dengan etika, dialog, dan keteladanan,” pesannya.
Di tengah derasnya informasi yang beredar, publik menanti langkah konkret kampus. Penanganan yang adil, transparan, dan profesional menjadi kunci menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan tinggi Islam di Banyumas. (Angga Saputra)








