Rangga Sujali
Ingat kecilmu kuceritakan aneka dongeng leluhur besarmu? Tentang Dayang Sumbi yang kawin sama anjing kutukan, lahir Sangkuriang. Sangkuriang dewasa jatuh cinta sama ibunya, tapi ibunya menolak. Sangkuriang marah, menendang perahu, terlontar jauh, sang perahu jatuh tengkurap. Jadilah Gunung Tangkuban Perahu.
Di Jawa Tengah ada cerita seru. Lelaki sakti bernama Bandung Bandhawasa, jatuh cinta sama Rara Jonggrang. Sang gadis meminta syarat, “Buatkan aku seribu candi, maka aku rela menjadi istrimu”. Dan lelaki sakti itu pun berhasil dikalahkan dengan “kelicikan” puan.
Di Banyumas ada pula kemurkaan seorang penguasa kala itu, menendang gunung menjadi dua bagian. Gunung Tugel dan Gunung Gora. Jamur Dipa, Gora, Slamet, pun dilupakan. Ada makna holistik yang memayungi Jawa Tengah. Hanya digali dan diacak-acak.
Yang kuingat, mulut kecilmu selalu bertanya penuh kekaguman. Mungkin kebingungan -seperti aku yang menceritakan-, sebelum akhirnya engkau tidur.
Lihatlah negeri yang dulu diperjuangkan dengan peluh, darah, dan air mata, kini dikangkangi oleh kaum oportunis. Mulut mereka manis berbisa. Hati mereka mati dijejali angkara harta. Saling sikat, saling sikut, salin tendang, saling banting. Ada pun berpelukan, hanya seremonial, di belakang saling tikam. Lain sisi ada pula yang seolah saling bantai, di belakang saling berbagi roti.
Ingat 2015, terakhir kita naik ke Gunung Slamet. Sepanjang jalan aku ceritakan kecerobohan penguasa memberikan ijin kepada PT. SAE. Yang kala itu membabat hutan puluhan hektar, bermodalkan UKL-UPL, bukan AMDAL sebagaimana mestinya. Di Igir gunung yang lain, para tauke menyuport dana untuk pertanian kentang dan sayuran. Ada juga yang merasa pintar, memanfaatkan sumber air dan air terjun di lereng sekitarnya untuk obyek wisata. Lagi-lagi tidak berfikir sisi estetika dan etika berlingkungan.
Maka hanya sedih ketika beberapa hari lalu Kiyai Slamet mengangingatkan penghuni di sekitarnya. Limpasan hujan membawa material, lumpur, batu dan potongan kayu, sekadar menunjukan eksistensi. Meluncur liar menegur penguasa dan pengusaha yang bersekongkol mengeruk untung. Sekadar memaknai nama gunung ini pun tak mampu. Dan korbannya adalah marjinal yang hanya mencari upah untuk hidup hari ini.
Slamet tak perlu puja-puji.
Musibah berlangsung cepat. Dan pekikan yang terdengar sangat indah. Kendati tampaknya agama tak kunjung mampu membentuk akhlakul karim. Yang berbaju bagus, duduk dengan mulut berbusa, memberikan harapan tentang surga. Jelata tersimpuh, seolah patuh, dalam keputusasaan sosial. Sisi lain, yang gagah penuh kuasa, tak kunjung mampu menahan nafsu rakusnya.
Panjang mitologi tentang Pertiwi yang kini jadi ajang komoditi. Bahkan kami tak punya taji. Swargantara, Dirgantara, Nusantara, Indonesia Radja, dan Indonesia Rayamu hanya jadi pasar. Riuh penjual dan pembeli, dikuasai oleh makelar. Beragama bertuhankan uang, bernabikan busana.









