INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • BANYUMAS RAYA
  • LAINNYA
    • CATATAN REDAKSI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

Era Slow Tech: Membaca Gelombang Kembali ke 1990-an di Tengah Derasnya Digital

Era Slow Tech: Membaca Gelombang Kembali ke 1990-an di Tengah Derasnya Digital
Kamis, 29 Januari 2026

Angga Saputra
indiebanyumas.com

Tren nostalgia 1990-an yang diprediksi menguat pada 2026 bukanlah fenomena biasa. Ia lebih dari sekadar daur ulang estetika atau siklus mode biasa. Di balik kembalinya walkman bergaya kaset, kamera analog, dan konsol gim retro, terdapat sebuah pernyataan kolektif generasi milenial dan Gen Z terhadap kehidupan modern.

Tren ini adalah reaksi terhadap keberlimpahan digital yang kering akan sentuhan. Di era ketika semuanya serba instan, dapat diunduh, dan tanpa batas fisik, produk-produk analog tahun 90-an justru menawarkan sesuatu yang langka: rasa memiliki, proses, dan keutuhan pengalaman.

Memutar kaset butuh komitmen untuk mendengarkan dari sisi A ke B. Kamera analog mengajarkan kesabaran dan keterampilan teknis sebelum melihat hasilnya. Konsol retro menawarkan kesederhanaan gameplay yang fokus pada kesenangan murni, bukan mekanisme monetisasi.

Yang menarik, ini bukan penolakan terhadap teknologi, melainkan upaya menemukan keseimbangan. Milenial tidak sepenuhnya meninggalkan smartphone atau streaming, tetapi mereka menciptakan ruang khusus di mana teknologi berjalan dalam ritme yang lebih manusiawi. Ini adalah bentuk “slow living” di ranah digital, sebuah perlawanan halus terhadap budaya perhatian yang terkuras dan hubungan yang dangkal.

Dari sisi ekonomi, kembalinya tren ini juga menandai matangnya daya beli dan kerinduan akan autentisitas dari generasi yang tumbuh di masa transisi analog-digital. Mereka bukan hanya membeli produk, tetapi membeli narasi, sejarah, dan pengalaman sensorik yang hilang. Pasar merespons dengan menghadirkan produk hibrida: perangkat yang terlihat retro namun dilengkapi teknologi modern (seperti pemutar kaset dengan Bluetooth).

Tren “kembali ke 1990-an” ini perlu dibaca sebagai sebuah kritik budaya. Ia adalah cara generasi muda mengatakan bahwa kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan pemeliharaan pengalaman manusia yang autentik, tangible, dan bermakna.

Tahun 2026 mungkin akan menjadi puncak di mana nostalgia bukan lagi sekadar pelarian, melainkan sebuah pilihan gaya hidup yang disengaja untuk menciptakan ruang bernapas di dunia yang berlari terlalu cepat.

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Presiden Prabowo Panggil Menteri Bahas Pengelolaan SDA, Tekankan Kepentingan Negara & Kemakmuran Rakyat

Selanjutnya

Pentingnya Sinergi: Wabup dan Disdik Dorong PGRI Jadi “Rumah Kerja” yang Relevan bagi Guru

Selanjutnya
Pentingnya Sinergi: Wabup dan Disdik Dorong PGRI Jadi “Rumah Kerja” yang Relevan bagi Guru

Pentingnya Sinergi: Wabup dan Disdik Dorong PGRI Jadi "Rumah Kerja" yang Relevan bagi Guru

Kades Klapagading Kulon Minta Perlindungan Gubernur Jateng, Tuding Inspektorat Banyumas Tak Profesional

Kades Klapagading Kulon Minta Perlindungan Gubernur Jateng, Tuding Inspektorat Banyumas Tak Profesional

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • BANYUMAS RAYA
  • LAINNYA
    • CATATAN REDAKSI

© 2021 indiebanyumas.com