Penulis : Rangga Sujali
Entah sejak kapan manusia iseng dengan dirinya. Dalam kondisi normal dan stabil, malah sengaja membuat tidak jelas, oleng, hingga tak sadar diri.
Ada banyak asupan yang dipakai, herbal, semi herbal, dan kimiawi. Yang level atas bisa mengkonsumsi heroin dan sejenisnya. Level menengah dengan ganja, koplo, mungkin jenis mariyuana lain. Level bawah dengan obat batuk -tanpa menyebut nama merek-, atau lem.
Itu mabuk secara fisik. Di era ini lebih banyak mabuk psikis. Mabuk isme dan mabuk media sosial. Sama-sama lebih sulit menyembuhkannya. Psikiater saja tidak cukup. Karena ini butuh kesadaran mendalam dan masif. Betapa 90% penduduk Indonesia sudah memegang gadget. Bangun tidur hingga menjelang tidur, gadget jadi dewa buat mereka. Semua orang bisa menjadi pewarta yang bangga ketika share video atau fotonya viral. Tanpa peduli negatif-positif efeknya.
Bencana di satu desa di satu provinsi misalnya, menjadi berita besar seolah satu provinsi mengalami hal yang sama. Seperti Bali misalnya. Provinsi Bali mempunyai 8 kabupaten dan 1 Kota Madya, ada 57 kecamatan, lebih kecil lagi 80 kelurahan dan 636 desa.
Ketika banjir melanda di Kerobokan, tidak berarti satu desa tenggelam. Hanya di spot tertentu saja. Namun ketika diwartakan di Tiktok atau medsos lain, akan terbaca mentah oleh pemilik akun. Dan seolah itu terjadi di seluruh Bali. Pengunggahnya secara personal, mendadak viral dan bangga mendapatkan reward dari laman medsosnya. Efek lain kemudian ribuan rencana kunjungan dibatalkan, karena takut banjir.
Mahfum, karena kemajuan teknologi yang tak berimbang dengan kecerdasan pikir. Maka setidaknya kita bijak, kalau pun kita ikut share sebuah berita, tak ada manfaatnya. Banyak hal yang menjadi pertimbangan mengambil dan mengunggah sebuah kejadian. Salah satunya empati terhadap korban. Ini yang kerap diabaikan, atau karena ketidaktahuan.
Di Jerman misalnya, menjadi masalah besar dengan denda yang amat mahal, ketika kita memotret korban kecelakaan atau bencana.
Atau memang kita bangga menjadi pihak yang mabuk?









