Rangga Sujali
(Redaktur Tamu Indiebanyumas)
Kuceritakan sesuatu yang terjadi di bumi tempatku berpijak saat ini. Sanur, Denpasar Selatan.
“We choose Sanur, this is the best place for live..” konon tempat ini seperti surga buat mereka. Semua orang tersenyum, lingkungan relatif asri, dan nyaris tanpa hingar-bingar. Bisa berjalan kaki berkilometer tanpa khawatir akan dicopet, tak seperti di Paris. Bahkan dengan US $100 sehari sudah bisa hidup dengan sangat baik.
Steve, berkewarganegaraan United Stated America, sejak usia pensiun, menyewa vila seluas 2 are, setara US $16.000 per tahun. Layak untuk standar mereka, dan mewah untuk standar kebanyakan penduduk pribumi Jawa. Bangunan baru dua lantai, tiga kamar tidur, dilengkapi dengan taman kecil dan kolam renang mini.
Hari-hari berdua saja bersama istrina, Nancy. Bangun pagi, sarapan segelas susu dan sepotong roti, US $5 cukup untuk berdua. Lalu mereka berjalan menyusuri jogging track dari Pantai Segara sampai Pantai Matahari Terbit. Amatlah yakin bahwa matahari tropis menyehatkan tubuh mereka. Dirasa cukup, mampir ke Grand Lucky, belanja sedikit buah, sayuran, dan daging. Tak lebih dari US $30. Lalu mereka kembali ke villa dengan taksi online, juga tidak sampai US $2. Untuk dinner, mereka keluar ke Pasar Sindhu, mencari local food dengan local price. Berdua tidak sampai US $10.
“Dulu saya bekerja dan membayar pajak. Hari ini pemerintah menunaikan apa yang jadi hak saya.”
Di negaraku, kata Mahfudz MD, andai saja dikelola dengan baik, tanpa pajak pun makmur. Aneka bahan tambang ada di sini. Semua negara asing membutuhkan. Tapi penyakit ekskyusitis koruptif menggerogoti pengelola negara. Memaafkan kesalahan yang disengaja dan memanfaatkan jabatan untuk mengeruk keuntungan pribadi dan kelompoknya. Kelompok kecil dengan kekayaan besar, dan menguasai semut Indonesia.
Bangun tidur hingga beranjak tidur, aneka pajak dan cukai dibayarkan. Minyak mentah diekspor lalu mengimpor aneka bahan bakar minyak dari Singapura. Aneka logam diekspor, kita masih impor plat baja dari Jepang. Nikel, lithium, mangan, kobalt, dan graphit pun demikian, lalu ratusan ribu mobil listrik kita impor dari China. Freeport mampu menghasilkan 218.000 ton per hari di tahun 2023, tak usah repot menghitung, karena kalkulator kita akan rusak. Masih untuk keuntungan kelompok yang itu saja.
Tak ada kata jaminan pensiun bagi masyarakat sipil. Jika kamu butuh makan, bekerjalah sampai mati. Beda nasib dengan kuli kontrak yang kalian pilih menjadi wakil rakyat, bekerja alakadarnya dengan fasilitas ekslusif, lengkap dengan tunjangan pensiun. Yups, negara ini dikelola suka-suka. Mereka yang membuat aturan, mereka yang menjalankan, dan mereka yang menikmati fasilitas negara.
Lalu kita membayar pajak untuk apa? Jangan abai dengan urusan yang satu ini, karena kita sudah disetting menjadi mesin penghasil devisa, yang dengan mudah dikendalikan dengan aneka regulasi. Dalam hal tertentu, lebih baik tidak berurusan dengan institusi Perpajakan. Bahkan ketika kita mengajukan restitusi pajak, laporan pajak kita selama 10 tahun pun akan dikoreksi, yang berujung kita harus bayar.
Jangan tanya nasionalisme kami. Karena sedikit saja ada yang mencolek, kami siap berkorban harta dan nyawa. Kendati hari ini kami dengan parau berkata, “Right or wrong, this is my fucking country”.


