Prof Yudhie Haryono PhD
Rektor Universitas Nusantara
Terjadilah apa yang harus terjadi. Terberkati apa yang harus diberkati. Lalu, mereka bertanya, “apa itu atlantis studies?” Sebelum menjawab pertanyaan itu, mari kusampaikan tesa. Demi masa depan. Masa lalu yang menjeniuskan masa kini. Pun, masa kini yang memartabatifkan masa depan. Inilah sejarah yang tak dikisahkan. Inilah kunci-kunci yang telat disampaikan. Dus, membaca, meneliti, menuliskan dan membuatnya sebagai kurikulum adalah keniscayaan.
Tentu saja, ini tindakan subversif ilmu pengetahuan. Ini revolusi saint yang menantang dan menggiurkan. Hanya para jenius yang berani melakukan.
Manuskrip itu mengisahkan bahwa pada puncaknya, Atlantis adalah peradaban zaman keemasan yang mulia, dengan tentara dan armada yang kuat. Tentara yang membela rakyatnya: bukan centeng oligark apalagi kolonial. Peradaban yang kaya akan sumber daya alam dan kaya dari perdagangan bangsa-bangsa di dunia.
Inilah peradaban kesederajatan yang berada di antara sungai dan pegunungan; disemai dalam kepercayaan pada hal ghaib; dimodernkan oleh spiritual dan percaya pada kejuangan; dipenuhi keanekaragaman hayati; dicukupkan dengan keberlimpahan moral dan akhlak memberi.
Di benua yang penuh tumbuhan, materi, sinar mentari, udara yang bersahabat, dan malam yang romantis, mereka membangun peradaban yang berkembang pesat. Integrasi tempat tinggalnya mereplikasi theo-antro-eco centris. Mereka juga menemukan dan menggunakan ilmu-ilmu yang berkembang canggih dan mempertinggi kemanusiaan.
Penemuan budaya leluhur dan filosofinya pada akhirnya memperkaya manusia Atlantis menjadi manusia spiritualis yang menyebarkannya ke seluruh dunia. Inilah benua asal muasal agama.
Manuskrip itu mengisahkan soal penting. Soal surga di timur yang beriklim tropis penuh dengan segala jenis keindahan dan kekayaan: daratan-daratan yang luas dan ladang-ladang yang indah, lembah dan gunung-gunung; batu-batu permata dan logam dari berbagai jenis; kayu-kayu wangi, wewangian, dan bahan celup yang sangat tinggi nilainya; sungai-sungai, danau-danau, dan irigasi yang melimpah; pertanian yang paling produktif; istana-istana bertabur emas, tembok perak, dan benteng; gajah dan segala jenis binatang buas yang sangat beragam.
Benua yang hilang karena bencana alam dan dekadensi moral penghuninya. Benua yang mewariskan prototipe makhluk manusia sempurna yang seluruh hidupnya memanusiakan sekitarnya. Apakah ajaran utamanya? Lima wawasan dalam lima kejuangan.
Pertama, wawasan keberlimpahan energi. Ini lahir dari trilyunan kekayaan rempah, herbal, emas dan nuklir. Kedua, wawasan keberlimpahan spiritual. Ini lahir dari milyaran kejadian bencana alam yang menaklukan mereka. Ketiga, wawasan keberlimpahan persatuan. Ini lahir dari jutaan peristiwa kehancuran masa lalu akibat konflik yang tak berujung pada kebaikan bersama. Keempat, wawasan keberlimpahan kepemimpinan musyawarah. Ini lahir dari ratusan peristiwa berdarah yang melelapkan para penguasa atas godaan tahta, harta dan lawan jenis. Kelima, wawasan keberlimpahan keadilan sosial. Ini lahir dari puluhan peristiwa pembrontakan sesama akibat tindakan semena-mena.
Mereka merumuskan nilai-nilai itu setelah menyadari dan mengalami sendiri bahwa peradabannya tidak hidup di semesta material saja, tetapi juga di semesta energi yang dinamis plus rangkaian ujian alam serta kerakusan agensi yang tidak tak terpikirkan.
Yang abadi hanya dia dan peristiwa. Yang lainnya fana dan punah. Demikian pula sejarah Atlantis, secara artefak. Dari maknanya, ia berasal dari bahasa sanskrit: Atala yang berarti surga yang suci. Sorga yang hilang, kesucian yang terbang.
Akankah kita akan mereplikasi nilai-nilainya demi masa depan berkeadaban? Kalianlah subjeknya; aku makmumnya saja.(*)






