Prof. Yudhie Haryono Phd
Presidium Forum Negarawan
AKU datang untuk jumatan dan sujud. Di masjid kampusku, tempatku mencari plus mendapati cinta dan ilmu. Di sini, aku memohon maaf dan hening. Satu perilaku yang sedang kupelajari dan kunikmati hasil merguru pada tuan Romo Setyo Hajar Dewantoro (SHD) yang bertemu lima bulan lalu di sebuah kafe di kota Depok. Pertemuan untuk merealisasikan mimpiku membangun antitesa kurikulum pendidikan nasional via pendirian universitas nusantara.
Sebuah kampus yang tidak menghasilkan para pengkhianat tetapi memproduksi ksatria dan patriot pembela bangsa. Sebuah kampus yang tidak jadi subjek utama dalam usaha agar republik ini tenggelam dalam demokrasi ultra liberal sehingga segala sesuatu tampak makin gelap. Sebaliknya, kampus yang menternak pasukan barisan berpikiran dan bertindak besar: menikam neoliberalisme tepat di jantungnya!
Sebuah rumah persemaian kepemimpinan pancasila yang melawan fatwa Dajjal, “Maka saling berburuk sangkalah wahai kalian ummat manusia. Itu yang aku suka.” Sebab, kampus ini membentuk ontologi persatuan, gotong-royong dan barisan.
Setelah mendengar dan kolaborasi di satu dua acara, saya ingat novel Aleph karya penulis favoritku: Paulo Coelho. Karya-karyanya sudah sering kuulas dan ada satu buku khusus yang kutulis membicarakan pikirannya, “Agama Adalah Penyakit.” Buku yang sempat membuat keluargaku, guru-guruku marah dan kami berdiam diri cukup lama. Ya, novel ini tidak hanya bercerita tentang perjalanan, tetapi mengandung banyak sekali nilai-nilai kehidupan, spiritualitas, cinta dan pengetahuan iman dan “ilang.”
Perjalanan Paulo Coelho mengajarkan kepada pembaca, bahwa apa yang kita lakukan di masa lalu akan selalu mempengaruhi kehidupan yang sekarang, karena sesungguhnya, kehidupan ini selalu berjalan, sama seperti gerbong-gerbong dan kereta api. Kehidupan yang satu dan kehidupan yang lalu sama seperti gerbong, kita tidak bisa melihat kehidupan yang lalu karena kita berada di gerbong yang berbeda, tapi semuanya tetap masih berjalan hingga Tuhan memutuskan untuk menghentikan kehidupan.
Di novel biografi karya Paulo Coelho ini kisah soal “suatu titik” di mana apapun berada pada ruangan waktu yang sama, sangat rumit dimengerti. Saat mengalami aleph, kita akan melihat banyak hal dalam waktu yang bersama: masa lalu, kini dan nanti yang bisa diletakkan dalam waktu bahagia, tidak sekedar suka dan senang saja, kata Paulo.
Seluruh karya Paulo ini diburu para pencari jati diri dan menungso lelono sehingga laris manis. Beberapa sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Di antaranya berjudul Sang Alkemis, Ziarah, Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis, Veronica Decides to Die, Sebelas Menit, Zahir, Iblis and Miss Prym, Brida, Sang Penyihir dari Portobello, Gunung Kelima, Seperti Sungai yang mengalir dan Sang Pemenang Berdiri Sendirian.
Suatu kali setelah ngaji, Romo SHD pernah berucap yang enigmatis, “terkadang kita memang perlu melakukan sesuatu yang tak biasa, karena dengan hal itu kita akan belajar hal baru dan lebih bermakna. Tetapi, hal baru tersebut tetep dari bimbingan ingsun atau kesejatian, bukan dari ego.”
Persis seperti Paulo yang berfatwa, “ada kalanya saat kita tidak melakukan kegiatan apa-apa, kita melakukan satu hal yang amat penting bagi diri sendiri: mendengarkan apa yang kita dengar dari diri sendiri, diri sejati. Sumber kasih. Sebab, kasih adalah mukjizat itu sendiri.”
Kini, di masjid kampus yang lugu bin lucu ini aku ingat kembali kisah-kisah itu. Mesjid ini masih seperti dulu: kering dan ontanis. Tak ada subtansi nusantara apalagi indonesia. Syukurnya ada danau di sampingnya sehingga menjadi eksotis. Dan, di sini dulu aku sering bicara soal revolusi yang sampai kini tak terjadi. Aku tidak tahu, apa lagi yang harus dilakukan untuk mewujudkannya saat usia makin menua. Uzur dan sendirian. Pada kalian, kawan di PM, PI dan NC, novel ini layak untuk bahan refleksi.
Kata John Lennon: “A dream you dream alone is only a dream. But, a dream you dream together is reality.” Bacalah sambil bercinta dan merampungkan ilusi-ilusi republik selokan pimpinan sarimin yang makin memuakkan dan menjijikkan.(*)