Menggaet suara milenial dan generasi Z jadi salah satu target Fuad Wahyudin. Saat ini, Fuad tercatat sebagai calon legislatif (caleg) tingkat DPRD Kabupaten Banyumas dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dia mendapatkan nomor urut 8.
Caleg daerah pemilihan (Dapil) ‘kota’ atau Dapil 1 yang meliputi Kecamatan Purwokerto Utara, Selatan, Barat, Timur dan Patikraja berusia 40 tahun ini yakin jika dirinya mampu mendulang suara dari kalangan milenial maupun Gen Z di wilayahnya.
Fuad menyampaikan kepada indiebanyumas berbagai gagasan yang akan ia bawa jika nanti terpilih.
“Gagasan yang siap saya perjuangkan di parlemen nanti adalah peraturan-peraturan daerah khususnya terkait wadah positif bagi anak muda sesuai concern dan hobi-hobi anak muda,” kata Fuad yang aktif di beberapa komunitas besar anak muda Purwokerto.
Kritik atas Zonasi Sekolah
Sistem zonasi dalam PPDB bisa menjadi langkah awal untuk memeratakan kualitas pendidikan, tetapi banyak yang harus dibenahi terlebih dahulu. Jika tidak, PPDB zonasi hanya akan menjadi masalah yang tak berujung.
Sistem zonasi adalah sistem dalam seleksi penerimaan peserta didik baru di mana sekolah menerima siswa berdasarkan jarak terdekat antara tempat tinggal siswa dan sekolah.
Adanya label sekolah favorit seolah memberikan stigma bahwa sekolah pinggiran mempunyai kualitas yang rendah. Sistem zonasi pun diciptakan untuk menghapus stigma tersebut.
Enam tahun sudah sistem ini berjalan, tetapi tidak terasa adanya perubahan dalam sektor pendidikan. Sistem zonasi terasa tidak efektif karena kualitas pendidikan belum setara di semua daerah.
Kualitas sekolah dan pengajar yang belum merata membuat beberapa sekolah mungkin memiliki program dan fasilitas yang lebih baik dalam pengembangan minat dan bakat siswanya.
Akan tetapi, menurut Fuad, dengan adanya zonasi, anak-anak kehilangan kesempatan untuk mengembangkan potensi secara maksimal hanya karena bertempat tinggal jauh dari sekolah yang unggul.
Pembangunan infrastruktur pendidikan juga belum dapat menjangkau daerah-daerah terpencil, terutama di luar pulau Jawa. Mau tidak mau siswa harus memilih sekolah yang memiliki fasilitas dan program yang kurang memadai.
Label sekolah favorit pun tidak dapat dihapuskan. Banyak orang tua yang rela memindahkan domisili anaknya ke kartu keluarga orang lain yang alamatnya lebih dekat dengan sekolah yang populer di daerah mereka.
Bahkan mereka tidak segan untuk bermain uang, menitipkan anaknya pada pejabat atau orang dalam supaya lolos di sekolah favorit. Hal ini disebabkan oleh masih adanya faktor indeks sekolah dan kedaerahan dalam sistem seleksi masuk perguruan tinggi jalur prestasi. Kebanyakan universitas masih memandang histori alumni sekolah di kampus sebagai pertimbangan seleksi mahasiswa.
Meski terdapat jalur seleksi berdasarkan prestasi selain jalur zonasi, nyatanya tetap ada celah untuk kecurangan. Beberapa sekolah menengah pertama dengan sengaja meng-katrol nilai murid-muridnya supaya diterima di SMA negeri favorit di daerahnya. Tentu saja nilai tersebut tidak dapat mencerminkan kualitas siswa sehingga banyak dari mereka yang tidak mampu mengikuti sistem pembelajaran di sekolah baru dan akhirnya terpaksa dikeluarkan.
Hal ini kabarnya membuat beberapa universitas di Indonesia kini lebih memilih untuk mengambil siswa dari sekolah swasta elit.
“Jelas ini menimbulkan suatu ketidakadilan karena seolah pendidikan tinggi lebih mudah diakses oleh orang-orang dari kelas atas,” ungkap Fuad.

Sepakbola Banyumas Harus Kembali Berjaya
Perjalanan panjang sepakbola di Kabupaten Banyumas dengan tim kebanggaannya yaitu Persibas telah mengalami berbagai gejolak dan pergolakan yang kerapkali menyertainya.
Pasang surut capaian tim berjuluk Laskar Bawor dalam beberapa tahun terakhir ini,dan bahkan masih dalam kategori kurang stabil. Bahkan, dalam peristiwa terakhir dalam kompetisi di liga 3, para suporter merasa kecewa dan terjadi tindakan yang berakibat hukuman dari komisi disiplin.
Menurut Fuad, sebagai anak muda yang peduli terhadap prestasi Laskar Bawor, dia sangat mengharapkan bahwa pekerjaan rumah ini mesti segera diselesaikan oleh pihak kepengurusan Persibas dan organ terkait dalam upaya peningkatan kualitas Persibas kedepan.
Dikatakan Fuad, sudah seharusnya pembenahan secara menyeluruh, hendaknya dilakukan seluruh stakeholder.
“Hal ini tidak lepas juga dari kebijakan anggaran untuk mengembangkan Persibas sebagai tim kebanggaan wong Banyumas, dan itu tidak lepas dari peran wakil rakyat,” ungkapnya.
Fuad juga menyikapi bahwa secara teknis, keberadaan Persibas harus dalam posisi yang netral dan tanpa ada campur tangan pihak tertentu untuk menentukan mana saja pemain yang masuk dan ikut bermain dalam suatu pertandingan.
“Tentunya mereka para pemain dengan skill dan kualiatas yang memang mumpui dan layak untuk bertanding. Berdasarkan dari hasil seleksi panjang para pelatih, dan manajemen yang baik,” ungkap pria yang kini tinggal di Karang Pucung Purwokerto Selatan ini.

Nuansa Berbeda di Lembaga Legislatif
Fuad mengatakan, keinginannya maju dalam pemilihan legislatif karena ingin memberikan nuansa yang berbeda dalam perpolitikan.
Salah satunya, bahwa anak muda juga mampu untuk memimpin dan berkontribusi nyata bagi Kabupaten Banyumas.
“Di samping itu, saya juga sangat senang untuk bisa melayani masyarakat baik di wilayah kota maupun di Banyumas. Apabila saya terpilih, kan saya bukan lagi menjadi wakil dari golongan atau wakil dapil, tetapi wakil rakyatnya wong Banyumas. Saya siap hadir kerja untuk rakyat, karena saya sudah diberikan kesempatan dan kepercayaan oleh PPP untuk dapat ikut serta dalam pemilihan legislatif, tanpa mahar dan embel-embel lain, dan akan kita lawan terjadinya politik uang, sebuah tindakan yang itu akan merugikan bagi rakyat sebagai pemilih,” kata Fuad. (ADV)