Mulat laku jantraning bumi, membangun sifat seperti bumi.
Sebuah petatah-petitih Jawa yang berarti bersikap lembah manah (rendah hati), dan andap asor (santun). Menebar berkah kepada lingkungan sekitar. Tidak rumangsa bisa (merasa serba bisa) tapi bisa rumangsa (mampu menyadari, terutama kelemahan).
Sederhana sekali dalam menulis dan mengucapkan. Namun tidak demikian dalam aplikasinya. Apalagi di era Hedon. Jangankan generasi milenial, generasi tua pun belum tentu bersikap demikian.
Berawal dari dendam kemiskinan. Orang yang saat sekarang berusia 45 tahun ke atas, memiliki masa kecil yang, rata-rata, terkekang. Penuh dengan pendidikan sikap perilaku, anggah-ungguh, Budi pekerti. Bagi orang tua kala itu, setiap gerak anaknya adalah perintah, arahan, agak ekstrim Omelan. Yang ketiganya, disadari sangat berguna sekarang. Miskin sekali sanjungan, apresiasi atas prestasi.
Seperti sore kami ngopi di teras depan. Tanpa meja besar atau kursi empuk. Semua ndeprok di lantai, bersyukur lantainya sudah dikeramik. Ngalor-ngidul obrolan orang tua-anak sampai berujung pada pembahasan serius. Capres-cawapres. Lalu anak yang nomor tiga bertanya, “Siapa jagoan ayah?” Spontan mamanya menjawab, “Mama tahu, ayah kenal baik ketiganya, pasti dicoblos semua..” kami tertawa puas. Kami terbiasa dan menyadari beda pilihan itu keren. Tak perlu diperdebatkan, saling menghujat, apalagi memfitnah atau memaki. Mereka orang yang sangat hebat, setidaknya dari 270 juta rakyat Indonesia terseleksi menjadi enam orang saja.
Diberi kesempatan kenal ketiganya adalah luar biasa, bahwa sekarang di Bali tidak menjadi apa-apa, adalah pilihan. Banyak teman yang sudah menduduki posisi penting. Dan sesekali menyambangi rumah sederhana kami di Denpasar Selatan. Ada yang menjadi anggota parlemen, menteri, asisten menteri, komisaris di BUMN, jenderal, pedagang bakso, peternak lele, sopir antar kota, guide, manajer hotel, owner holding company besar, pengacara terkenal, pengrajin mebel, pabrik tahu, designer pakaian, dan sebagainya. Semua teman yang mulia. Dan sungguh kami muliakan. Tanpa pilih bulu.
Hingga suatu ketika, ada teman dari Jakarta, lewat tengah malam menelpon mau mampir, kebetulan dia ada acara kedinasan di Nusa Dua, minta ijin ke rumah. Kami berdiskusi, tepatnya si teman mengeluh dalam “ketakutan”, kapan giliran dia kena OTT, besok siapa yang ditangkap, lusa siapa yang “menyanyi”.
Hanya disuguhi secangkir kopi dan pastry bikinan istri. Setahuku dia sudah lama berhenti merokok, tapi masih sempat menghisap tiga batang rokokku. Letih dan kusut tampang si teman. Sampai tak sadar dia tidur di kursi panjang ruang tamu, yang sebetulnya tak layak buat dia tidur. Karena kamar hotel yang disediakan, sama dengan budget belanja sebulan istriku. Luar biasa. Kuhitung satu per satu yang dia kenakan, jam tangan rolex cukup buat beli selusin rumahku. Sepatu Bally, dukup buat bayar enam semester kuliah anakku. Kemeja dan celana La Coste, cukup buat beli motor, gesper Mounth Blanc, dasi Pierre Gruno, belum lagi parfumnya. Luar biasa hedon teman satu ini. Berapa gajinya bisa mengenakan busana sedemikian mahal. Membantu penyelesaian kasus apa? Atau dapat success fee dari mana? Otakku jahil. Kulihat lelap seperti Chiko, anjing kami yang tidur di keset, kubiarkan sampai matahari terbit.
Dulu saat sama kami jadi jurnalis, pernah adu kuat pakai celana jeans tanpa ganti. Dan si teman kuat sampai 42 hari. Hari ke 28 aku gugur karena ruam di bokong. Idealisme bau kentut buat dia tak perlu lagi dipertahankan. Dan aku bersyukur tidak memiliki nafsu balas dendam kepada kemiskinan. Semua telah dicukupkan. Hanya cukup, tidak berlebih. Jika suatu ketika merasa kurang, itu manusia.
Menungsa mung jalma kadya gunung tanpa tutugan..
Penulis adalah Pemerhati Sosial, Budayawan dan Jurnalis Senior