indiebanyumas.com – Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres), Ganjar Pranowo dan Mahfud MD, menargetkan penurunan angka kemiskinan menjadi 2,5 persen dan kemiskinan ekstrem 0 persen. Target tersebut tertuang dalam visi misi Pilpres 2024.
Wakil Ketua Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Gatot Eddy Pramono mengatakan target tersebut telah dikaji secara mendalam oleh para ahli.
“Saya kira semua itu sudah dikaji oleh tim kita untuk menurunkan angka kemiskinan seperti salah satunya tadi kepada masyarakat bagaimana nanti harga-harga yang sekarang mahal bisa terjangkau dengan masyarakat,” Kata dia saat blusukan di Cilincing, Jakarta Utara, Minggu (5/11/2023).
“Ini akan dilakukan dengan tentunya dengan tim yang sudah disiapkan,” ujarnya.
Edi mengatakan, Ganjar dan Mahfud telah mempersiapkan sejumlah perencanaan dalam menghadapi persoalan ketahanan pangan.
“Program Pak Ganjar saat ini terkait dengan masalah ketahanan pangan, bagaimana pangan itu nanti bisa dijangkau masyarakat, tentunya banyak sekali yang lainnya. Kan sekarang kita lihat harga ada yang tidak terjangkau oleh masyarakat,” tuturnya.
“Nah ini menjadi tugas utama dari tim ya Pak Ganjar setelah nanti beliau jadi presiden untuk harga-harga nanti dapat terjangkau masyarakat secara umum, sehingga masyarakat dipastikan kalau nanti ada bahan naik pemerintah bisa mengambil langkah antisipasi,” katanya.
Dia mengungkapkan salah satu upaya mengentaskan kemiskinan adalah kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat produktif. Siswa lulusan SMA maupun yang kuliah akan diberikan solusi.
“Itulah nanti yang akan dicari solusinya, salah satu solusi yang Pak Ganjar tawarkan adalah bagaimana nanti mereka seperti yang di SMK atau di tempat lain akan disesuaikan dengan kebutuhan industri atau perusahaan yang dapat mengimplementasikan ilmunya,” kata dia.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat masih ada sebanyak 25,9 juta orang miskin di Indonesia per akhir Maret 2023. Meski cukup banyak, namun orang miskin ini sudah berkurang 460 ribu orang dibandingkan akhir September 2022, yakni sebanyak 26,36 juta orang.
Sekretaris Utama BPS Atqo Mardiyanto mengatakan secara persentase jumlah orang miskin ini sebesar 9,36 persen atau turun 0,21 persen dari September 2022 sebesar 9,57 persen.
“Tingkat kemiskinan pada Maret 2023 ini mengalami penurunan atau lebih rendah bila dibandingkan kondisi September 2022,” ujarnya dalam konferensi pers, Senin (17/7).
Menurutnya, jumlah penduduk miskin yang turun ini terbilang cukup baik di tengah kenaikan garis kemiskinan. Saat ini, garis kemiskinan di Indonesia naik 2,78 persen menjadi Rp550.458 per bulan.
Adapun besaran garis kemiskinan ini ditetapkan sebagai batasan pengeluaran masyarakat. Jika, pengeluaran masyarakat di bawah Rp550 ribu per bulan, maka masuk dalam kategori orang miskin.
Berdasarkan wilayahnya, penduduk miskin terbanyak masih berada di pedesaan. Per Maret 2023, jumlah orang miskin di perdesaan tercatat sebanyak 14,16 juta orang atau turun 12,22 persen dibandingkan September 2022 sebanyak 14,38 juta orang miskin.
Sedangkan, jumlah orang miskin di perkotaan tercatat sebanyak 11,74 juta orang di akhir Maret 2023. Realisasi ini turun 7,29 persen dari 11,98 juta orang miskin di September 2022. (aga)






