BANJARNEGARA – Kebijakan minyak goreng kemasan satu harga, Rp 14 ribu perliter oleh pemerintah belum dirasakan masyarakat yang tinggal pedesaan.
Dari pengakuan sejumlah ibu rumah tangga, di Banjarnegara, minyak goreng murah masih hanya ditemukan di toko modern, baik swalayan atau mini market.
Berita soal minyak goreng murah sudah sampai di telinga masyarakat desa. Ini menjadi angin segar bagi mereka.
Maklum, minyak goreng menjadi kebutuhan pokok yang harus selalu ada di dapur.
Berapapun mahal harganya, warga tetap membelinya. Tingginya harga minyak goreng membuat warga desa resah.
Penderitaan mereka kian dalam karena pengeluaran bertambah. Padahal perekonomian mereka masih susah. Sebab pandemi belum sepenuhnya musnah.
Karenanya, kebijakan minyak goreng satu harga disambut antusias warga. Masalahnya, sampai sekarang, mereka belum sulit mengaksesnya. Khususnya yang tinggal di desa, lebih-lebih daerah terpencil
Lokasi desa yang jauh dari swalayan atau minimarket membuat mereka kesulitan mengakses minyak murah.
Rina, ibu rumah tangga dari Desa Petuguran, Kecamatan Punggelan, Banjarnegara mengatakan, di warung-warung desa, belum tersedia minyak goreng murah seperti dijanjikan pemerintah.
Minyak goreng satu harga masih hanya tersedia di toko modern. Padahal, jarak desanya ke mini market cukup jauh.
“Di warung biasa belum ada,” katanya.
Di mini market pun, stok minyak goreng satu harga tak mesti ada. Karena warga saling berebut untuk membeli.
Ia mengaku baru sekali membeli minyak goreng di mini market yang dibatasi maksimal hanya 2.
Warga desa tentu merugi jika jauh-jauh datang ke mini market, ternyata stok minyak sedang habis. Jika pun ada, pembelian dibatasi. Padahal, perjalanan menuju mini market dari desa lumayan jauh dan cukup menguras bensin.
“Akhirnya gak jadi murah, malah tambah ongkos kirim,” katanya.
Alhasil, warga di desa banyak yang masih mengonsumsi minyak curah.
Harga minyak curah lebih murah di banding minyak goreng kemasan yang saat mencapai Rp 20 ribu – 22 ribu perliter.
Sulitnya mengakses minyak goreng kemasan satu harga juga dialami Irma, ibu rumah tangga asal Desa Pucungbedug Kecamatan Purwanegara.
Di tiga toko modern yang ia sambangi, hanya satu toko di antaranya yang tersedia minyak goreng kemasan seharga Rp 14 ribu.
Di dua mini market lainnya, stok minyak murah itu kosong alias habis.
Itu pun ia hanya boleh membeli 1 produk, tidak bisa lebih.
Padahal, jauh-jauh ke mini market, harapannya ia bisa membeli produk lebih banyak untuk stok di rumah. Karena jarak dari tempat tinggalnya dengan mini market cukup jauh.
“Dibatasi maksimal 1 setiap orang perhari,” katanya.
Iya, minyak goreng satu harga masih menjadi “barang gaib” bagi masyarakat pedesaan. Ada namun seakan tak tampak.(*)





