![]()
Banyumas, indiebanyumas.com – Para Agen Elektronik Warong atau e Warong beberapa waktu lalu memproleh kritik supaya dalam menjalankan tugasnya melayani para Keluarga Penerima Manfaat (KPM) jangan terlalu fokus mementingkan laba agar bisa memperoleh lebih besar.
Sebaliknya, demi mewujudkan pelayanan yang baik kepada KPM melalui kualitas barang serta harga yang lebih kompetitif, para agen diharapkan lebih utama dalam memperhatikan bahan pangan supaya ketika diterima KPM hasilnya memuaskan baik dari sisi kualitas maupun kuantitas sesuai dengan nominal bantuan yang mereka terima setiap periode senilai Rp 200.000.
Seberapa sih laba tiap kali Bansos Program Sembako disalurkan melalui para agen e warong kepada KPM?
Tim indiebanyumas.com melalui penelusuran di sejumlah e warong serta dari berbagai sumber yang kompeten secara garis besar menyimpulkan keuntungan atau laba para agen tampaknya tidaklah semuanya sama persis dalam meraup rupiah. Bahkan ketika mereka mengambil bahan pangan dari satu penyalur atau suplier yang sama dengan harga sama.
Tak hanya itu, juga ketika jumlah KPM mereka juga hampir angkanya sama. Kenapa?
“Pinter-pinter nya agen dong, Anda tahu kan sudah melakukan penelusuran sendiri,” kata salah seorang sumber.
Ya, memang. Data yang dikantongi tim indie sejauh ini, tidak sedikit agen yang sampai mengantongi keuntungan untuk tiap transaksi satu KPM mencapai angka hingga 30 ribu rupiah!
Jika dihitung laba satu periode apabila agen e warong melayani 300 KPM maka tiap penyaluran mereka mengantongi sedikit nya Rp.9.000.000. Memang tidak semua agen e warong melayani KPM sebanyak itu. Tetapi jika melihat data di setiap desa, rata-rata tiap agen melayani antara 250-400 KPM.
Khusus bulan Desember 2021, keuntungan empat kali lipat diterima para agen karena pada bulan di akhir tahun ini pelaksanaan penyaluran mencapai 4 kali periode. Dua kali untuk periode November-Desember, dua kali untuk tambahan program bantuan khusus Pandemi Covid 19 bahkan ada lagi diantara KPM yang masih memperoleh tambahan senilai Rp 900.000. Tanpa menghitung tambahan tersebut, dalam penyaluran bulan Desember yang merupakan gabungan dari 4 penyaluran sekaligus, agen e Warong asumsinya bisa meraup laba sebesar Rp. 36.000.000.
Darimana kami menghitung laba agen e warong sampai muncul angka Rp. 30.000 / KPM?
Sebagaimana diketahui, setiap KPM memperoleh bantuan senilai Rp 200.000 yang ditukarkan dalam bentuk bahan pangan dari berbagai komoditi yang telah diatur dalam Pedoman Umum (Pedum) Program Sembako diantaranya daging sapi/ayam, dan telur (Protein Hewani), Sayuran/Buah-Buahan dan Beras serta tahu/tempe.
Komoditi pertama yang paling moncer adalah daging. Jika biasanya KPM menerima daging sapi dari yang tersedia di e warong masing-masing, selama 6 periode penyaluran ini jenis daging yang beredar ada dua macam yaitu sapi dan ayam. Dalam beberapa hari terakhir, lonjakan harga terjadi pada komoditi jenis protein hewani ini.
Harga daging ayam misalnya, di pasaran sudah dihargai pada kisaran angka Rp. 54.000. Informasi yang indie peroleh, para agen e warong memperoleh harga dari suplier pada 25 Desember kemarin per kilo Rp 36.000. Dengan demikian, karena harga yang diberikan kepada KPM menyesuaikan pasar, maka laba dari komoditi ini sangat jelas sudah cukup besar.
Adapun untuk jenis daging, ada fenomena harga yang berbeda dari suplier satu dengan suplier lainnya. Ini hampir ditemui di seluruh kecamatan, dan yang paling tersorot terjadi di wilayah kecamatan eka Kotatip Purwokerto.
Ada dua jenis harga dari suplier berbeda, pertama harga Rp 45.000/0,5Kg dan Rp 52.000/0,5Kg. Agen e warong menilai harga daging setengah kilo itu menjadi Rp 55.000.
Komoditi kedua juga dari bahan pangan yang mengandung dzat yang sama protein hewani yakni telur yang juga harga di pasaran naik signifikan. Di pasaran, harga telur hingga hari ini Rp 35.000/Kg.
Nah, soal laba dari komoditi ini, ada indikasi kuat munculnya strategi oleh para agen yang jauh-jauh hari sebelum ada pengumuman mereka memborong telur dengan nilai harga yang masih relatif rendah. Informasi yang indie terima, laba dari komoditi telur bahkan ada yang mencapai Rp 12.500/kg atau dalam satu kali penyaluran meski itu hanya sebagian kecil agen.
“Bisa sampai senilai itu,” ungkap sumber indie.
Lantas bahan pangan yang merupakan bahan pokok bagi sebagian besar masyarakat tanah air, beras. Harga beras yang melonjak naik sejak dua bulan lalu karena musim hujan serta menjadikan kelangkaan di pelosok desa kini untuk jenis medium termurah dihargai Rp 10.500/Kg. Adapun para agen rata-rata membeli beras dari para suplier dengan harga Rp 8700-8800 per Kg.
Sebelumnya, jadwal penyaluran paket sembako untuk Keluarga Penerima Manfaat (KPM) pada bulan ini tidak dilaksanakan bersamaan untuk empat kali pelaksanaaan yakni untuk dua periode penyaluran bulan November-Desember serta dua tambahan. Suplier salah satu bahan pangan, Sumbadi menegaskan, agen e warong yang kemudian diberi kebebasan untuk melayani KPM diminta agar jangan terlalu banyak mengambil laba karena ada peluang menentukan waktu.
“Sebaiknya dengan mempertimbangkan kepentingan bersama terutama adalah KPM, rekan-rekan agen e warong tetap berpedoman pada prinsip melayani sebaik baiknya yang bermuara agar masyarakat penerima memperoleh bahan pangan berkualitas dengan kuantitas yang semestinya,” katanya.
Komisaris PT LIS tersebut mengatakan, jadwal penyaluran yang kemudian ditentukan oleh agen e warong memang berpeluang bagi mereka bisa memperoleh keuntungan lebih banyak. Misalnya, kata Sumbadi, untuk komoditas telur yang harganya fluktuatif, dirinya mendapati banyak agen yang memborong harga telur untuk kebutuhan KPM tanpa memperhatikan resiko.

“Karena sebelum menentukan waktu penyaluran, harga telur di pasaran masih bisa dikatakan murah dan lantas rekan agen ramai-ramai memborong telur dengan tujuan ketika harga sudah melonjak naik maka mereka otomatis akan mengantongi laba lebih besar. Nah, di sini yang tidak diperhatikan adalah ketahanan telur itu tidak lama sehingga rentan sekali menjadi busuk, jikalau tidak kasihan KPM mereka harus tergesa-gesa menghabiskannya,” tegas Sumbadi.
Sementara pihak suplier meminta agar para agen lebih bijak dalam menentukan nilai tukar bahan pangan dalam bantuan program Sembako kepada KPM, ungkapkan berbeda justru datang dari agen. Salah seorang agen e warong di Desa Cilongok sangat mengharapkan agar para suplier ke depan dalam menentukan harga komoditi tidak terlalu tinggi.
“Sebaliknya dari saya juga rekan lain, kami berharap pengusaha atau suplier juga tidak tinggi-tinggi memberikan harga kepada kami sehingga mari bisa sama-sama ‘bebrayan’, ” kata agen yang meminta namanya tak mau sebutkan.
Penulis
Angga Saputra





