![]()
Banyumas, indiebanyumas.com – DPRD Banyumas berkomitmen untuk mengawal ditsribusi program Bantuan Sosial (Bansos) terutama berkaitan dengan komoditi yang dihasilkan dari hasil pertanian lokal, utamanya adalah beras. Menanggapi adanya keluhan dari sejumlah petani di beberapa desa di Cilongok yang hasil panen mereka tidak terserap sebagai komoditi yang disertakan oleh penyedia, lembaga legislatif akan terus mengawal persoalan tersebut di setiap daerah.
“Kita akan terus mengawal persoalan yang terjadi di lapangan mengenai tidak terserapnya hasil panen petani yang berujung pada harga gabah maupun beras mereka menjadi bernilai murah. Akhir pekan kemarin, komisi 3 dan 4 yang membidangi ekonomi dan kesra, serta dari dinas terkait yang menjadi koordinator dalam program Bansos Sembako kita kumpulkan untuk rapat membahas khusus mengenai permasalahan ini,” kata Ketua DPRD Banyumas, dr Budhi Setyawan kepada indiebanyumas.com.
Dikatakan Budhi, dirinya mengapresiasi apa yang telah diselesaikan di tiga desa di wilayah Kecamatan Cilongok dengan solusi kesiapan dari penyedia beras untuk membeli hasil panen petani lokal di sana.
“Seharusnya ini dilakukan oleh para penyedia komoditi beras, demi tercapainya tujuan dari dilaksanakannya program Bansos Sembako diantarnya mengembangkan pergerakan ekonomi rakyat. Apalagi di masa seperti sekarang, kita harus bisa menyadari atas kondisi ekonomi akibat pandemi dimana ketika prinsip gotong royong bisa diaplikasikan secara nyata maka kita akan kuat dalam menghadapi cobaan ini,” kata Budhi.
Koordinator Lapangan Kelompok Usaha rakyat Marhaen Jaya Cilongok, Aji Pamuji menyatakan respek atas sikap dari para wakil rakyat terutama dari pimpinan yang langsung menyerap aspirasi dari bawah. Kata Aji, persoalan di Cilongok adalah pintu masuk untuk membuka persoalan yang sama yang dialami petani lain di wilayah Kabupaten Banyumas.
“Tidak mungkin persoalan ini hanya terjadi di wilayah Kecamatan Cilongok saja, sehingga dibutuhkan komitmen wakil rakyat kita untuk mengawal jalannya distribusi Bansos terutama dalam pengadaan komoditi lokal minimal di masing-masing dapil mereka,” kata Aji.
Aji menyatakan KUR Marhaen Jaya sebagai lembaga usah dan kelompok pergerakan sosial rencananya akan segera menjalin kerjasama dengan para pemuda di setiap wilayah untuk bersama memantau persoalan yang pernah terjadi di Kecamatan Cilongok.
“Karena di Banyumas kan memang komoditi yang terbesar yang dihasilkan dari petani lokal adalah beras sehingga untuk awal konsentrasi kita ke satu komoditi. Namun, sambil berjalan kita juga akan mensurvei juga komiditi tahu lokal yang katanya belum juga terakomodir dengan baik, namun kita baru mendengar kabar itu saja belum langsung melakukan survei,” katanya.
Sebagaimana diketahui, persoalan keluhan petani yang selama ini hasil panen mereka tak dibeli untuk distribusi program Bansos Sembako di sebagian wilayah Kecamatan Cilongok akhirnya ditemukan solusi. Di tiga desa, para petani yang mengeluhkan atas kondisi tersebut sudah seluruhnya kini ditampung oleh suplier.
“Ada petani di tiga desa yakni di Desa Sudimara, Batuanten dan Kasegeran yang menyampaikan keluhan kepada kami akan nasib miris yang menimpa mereka ketika pemerintah menggelontorkan program sembako dengan salah satu komoditi beras, justru mereka malah dibiarkan,” kata Aji Pamuji.
Dia mengatakan, solusi dari persoalan para petani tersebut selesai setelah perwakilan dari kelompoknya menemui suplier yang selama ini menjadi penyedia komoditi beras di Cilongok.
“Kami menemui salah satu penyedia, meski yang bersangkutan sejatinya tidak menjadi suplier di tigas desa namun Alhamdulilaah punya pemahaman yang sama dengan kami bahwa sebuah keharusan hasil panen mereka bisa dinikmati oleh warga di lingkungan mereka sendiri, bukan justru malah menjadi ironi karena sulit menjual barang,” katanya.
Dari hasil pertemuan antara KUR Marhaen Jaya dengan salah satu penyedia komoditi beras disepakati jumlah seluruh hasil panen petani yang selama ini tak terbeli, untuk setiap distribusi program Bansos Sembako ditampung sebanyak 22 Ton.
Penyedia yang menyatakan kesiapa membeli beras petani tersebut, kebetulan berdomisili di wilayah Kecamatan Cilongok, Much Zein Firdaus. Zein sebenarnya tidak menjadi penyedia di tiga desa tersebut, hanya ada di dua desa yakni Batuanten dan Kasegeran.






