CILACAP – Biasanya mendekati bulan Syura, nelayan di Kabupaten Cilacap tengah bersiap untuk mengadakan gelaran acara tahunan sedekah laut.
Namun di tengah pandemi ini, acara yang biasanya ramai dengan arak-arakan harus seminimalis mungkin. Hal ini diungkapkan oleh Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cilacap, Sarjono.
Menurutnya, saat ini pihaknya tengah berusaha mendapatkan izin dari Pemerintah Kabupaten Cilacap untuk tetap menggelar prosesi sedekah laut.
“Kami sudah mengajukan proposal sedekah laut ke Disporapar Cilacap. Untuk pelaksanaannya di hari Jum’at Kliwon bulan depan (Agustus),” kata dia, Jum’at (16/7).
Pihaknya berharap, kasus Covid-19 di Kabupaten Cilacap bisa berkurang sehingga gelaran sedekah laut bisa terlaksana sesuai rencana.
“Kita lihat nanti pemerintah akan bagaimana. Semoga angka Covid-19 berkurang,” katanya.
Menurutnya, tradisi sedekah laut bermula dari perintah Bupati Cilacap ke-3, Tumenggung Tjakrawerdaya III pada tahun 1817 yang meminta kepada sesepuh nelayan Pandanarang, Ki Arsa Menawi untuk melarung sesaji ke laut selatan.
Sedangkan pada Jumat Kliwon bulan Syura tahun 1875, sedekah laut dilakukan dengan menyertakan kelompok nelayan lain seperti Sidakaya, Donan, Sentolokawat, Tegalkatilayu, Lengkong dan Kemiren. Baru pada Tahun 1982 hingga 2019, sedekah laut diangkat sebagai atraksi wisata.
Sementara itu, Kabid Pemasaran Pariwisata dan Ekraf Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Cilacap, Erni Suharti mengatakan, pihaknya telah menerima proposal sedakah laut dari HNSI Cilacap. Kendati demikian pihaknya masih belum bisa memutuskan karena masih adanya penerapan PPKM Darurat.
“Kita masih tunggu karena ada PPKM Darurat. Untuk yang tahun kemarin kita hanya memberikan bantuan pemerintah tapi hanya untuk sembilan kelompok nelayan. Tidak seperti sebelum pandemi ada acaranya. Karena memang saat pandemi harus dilakukan minimalis supaya tidak menimbulkan kerumunan,” kata dia. (ray)






