INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

Pandemi, lalu Kekejaman Yang Tak Teratasi

Kamis, 15 Juli 2021

Beruntung sekali saya masih punya kawan tua, yang sekarang sedang menikmati keindahan nan sunyi di Pulau Dewata. Seolah waktu yang ia kira sebentar ini masih menjadi agenda bulan madu bersama sigaring nyowo. Darinya, kolumnis indiebanyumas,com masih terisi bahasa dengan diksi yang tak pernah usang oleh zaman meski dirinya tak harus menunggu lama juga segera dipanggil Si Mbah.

Dari sisi analisanya, beberapa kali saya sungguh menyesal karena sungguh sedang malas untuk membaca. Meskipun, ketika kawan tua saya yang bernama lengkap Sudjali Anwar itu amat meragukan tingkat keterbacaan dari apa yang ia tuliskan di ruang maya bernama indiebanyumas.com. ‘Nyong wis maca kang. Sing durung kue wong lia. Udu karena neng indie, kie jamane udu jaman tukang tulis. Tapi apa enggane rika arep mandeg nulis lan tiru-tiru ngejegreg nonton video utawa malah gawe konten?’.

Sudah, yang soal baca-bacaan tadi itu, selesai. Satu persoalan bahwa tulisannya tak pernah saya hargai dengan rokok jenis mild kegemarannya, pas setahun sudah dengan tiga media yang ganti-ganti, tetap menjadi perdebatan yang sialnya kadang membuat kami Baper. Semua sudah tahu sebab musababnya, Wabah Pandemi Coronavirus. Muaranya jelas, menggerogoti kantong celana, dompet sampai dengan rekeningpun dikosongkan dengan penghuni karenanya.

Keberuntungan karena kawan tua ketika suasana sedang tak mengasikan seperti sekarang Alhamdulillah, tak pernah berhenti. Ketika saya memvonis diri sendiri sudah terhinggapi corona virus  dan lalu mengurung diri tepat 20 hari, datanglah salah satu skuad terbaik dari jajaran kawan tua saya. Kang Wira Agung.

Telat memang jika kedatangan Kang Wira untuk sengaja merawat fisikku yang baru pernah lemah sekian lama itu.  Lha wong ilmu kanuragan dengan cara mengurung diri 20 hari itu sudah membuatku kembali sehar alfiat. Justru hati ini begitu syahdu memiliki seorang kawan yang tak hanya sekali ini yang paling, paling dan paling memperhatikan tatkala kukabari anggota keluarga saya ada yang sedang sakit. Kali ini adalah pahlawan utamaku, ibuku. Dan 2016 silam ketika kami dipertemukan dalam sebuah wadah pergerakan bersama-sama dengan Bung Iteng Pemuda Pancasila, dialah yang tak henti-hentinya menanyakan kabar anak lanang saya yang tak mempan suntikan dokter untuk ditest darahnya karena Februari adalah bulan rentan demam berdarah.

Oia, dia tetap sama seperti pada tahun 2016 silam. Sudah 3 kali hari ini  menghubungiku melalui saluan aplikasi android menanyakan kondisi ibu saya.

Menyuburkan Persahabatan, itulah yang tanpa terasa mereka lakukan. Maaf jika hanya dua nama mereka saja yang tersebut,  meskipun saya benar-benar merasakan begitu berartinya kawan-kawan saya dalam hidup saya selama ini. Kegalauanku ketika setiap pagi berteman kopi dan Pancasila dalam ruang kecil rumah saya yang tetap saja masih belum terjawab kini di nomor tiga kurasakan inilah yang dinamai Persatuan Kemanusiaan. Persatuan Indonesia.

Meloncat selanjutnya adalah apa yang telah Ir Soekarno ajarkan dalam konsep Trisaktinya. Bulan kemarin, adalah bulannya sang proklamator yang dari tulisan seorang kader partai PDI Perjuangan di Banyumas asal Sokaraja, Pak Bambang Pudjianto di indiebanyumas.com dan kebetulan beliau ini mungkin satu-satunya yang tersisa sebagai pejabat partai bernama Bankorcam pada Tahun 1979 sehinga mencoba mengingatkan kepada generasi muda bahwa Bung Karno bukan sekadar presiden pertama, tapi seorang brilian yang dipenuhi gagasan dan cita-cita untuk Indonesia ini.

Dalam catatan yang ia kirim dengan judul Catatan Bulan Bung Karno itu disebutkan konsep Trisakti sebagai grand design dari cita-cita yang dirancang Bung Karno untuk Indonesia. Bukan saja pada masanya hidup, tetapi beliau merumuskan gagasan yang tak hanya dirangkumnya dari teori-teori ideologis. Dia turun, menemui rakyatnya, menganalisa Indonesia sebagai negara yang baru saja merdeka, dan apa yang harus dilakukan satu abad ke depan. Trisakti itulah konsep besar yang kebanyakan orang sering mengucapkan istilah Berdikari. Berdikari atau Berdiri di Atas Kaki Sendiri atau bisa saja diartikan sebagai sikap kemandirian, terdiri dari tiga prinsip. Yakni Berdikari dalam bidang Ekonomi, Berikari dalam Politik serta Berdikari dalam Kebudayaan. Bagi Bung Karno, ketiganya adalah prinsip yang harus sudah dijalankan sebagai pondasi agar bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang maju serta bangsa yang bermental baja, serta bangsa yang kuat dalam menghadapi setiap gejolak di dunia.

Kembali kepada konsep dari Trisakti, Bung Karno sejatinya mendambakan bahwa apa yang ia sampaikan kepada rakyat harus dipahami secara utuh dan tidak terpisah. Ya, karena ketiganya merupakan konsep kesatuan yang harus seiring sejalan dalam penerapannya. Kata Bung Karno, menerapkan berdikari di dalam ranah ekonomi harus dicapai agar kedaulatan kepribadian dalam kebudayaan segenap bangsa Indonesia tercapai.  Demikian pula atas konsep kemandirian ekonomi yang tidak akan terwujud apabila segenap bangsa tidak memiliki kedaulatan secara politik serta memiliki kepribadian yang kokoh dalam kebudayaan.

Bung Karno  berpandangan setelah merdeka, beliau mendapati sebuah kenyataan bahwa masyarakat Indonesia masih memiliki tingkat ketergantungan yang begitu besar terhadap bangsa lain. Ketergantungan itu ditunjukkan dalam bidang ekonomi. Padahal sebagai putra bangsa yang memiliki pengetahuan akan banyak hal akan negerinya sampai ke seluruh sisi kehidupan, Bung Karno tahu betul bahwa apa yang sedang terjadi tidak lain disebabkan karena kekayaan sumber daya alam yang dimiliki belum dimanfaatkan secara benar. Ini bukan karena sumber daya manusia yang kurang, Bung Karno justru menginginkan realita ini harus segera dibenahi karena bangsa Indonesia juga tidak kekuarangan sumber daya menusia yang mumpuni.

Berdasarkan kedua hal itu, Bung Karno lantas menekankan pentingnya kesadaran segenap bangsa Indonesia agar mampu berdiri di atas kaki sendiri. Itulah yang lalu dikenal sebagai konsep brilian yang tak lekang oleh waktu, menjadi istilah BERDIKARI.

Berdikari bagi segenap bangsa Indonesia adalah ketika sudah bisa mengatur perekonomian demi kesejahteraan rakyat tanpa terkecuali.  Sang Putra Fajar yakin jika ketergantungan yang tinggi terhadap bangsa lain dalam konteks ekonomi jelas tidak akan mampu menjamin kesejahteraan rakyat. Sebaliknya, Bung Karno berpandangan realitas yang ia dapati itu akan menuju pada kemerosotan ekonomi tanah air yang tak berkesudahan. Konsep Berdikari secara ekonomi itulah, Bung Karno sudah membangun pondasi nan kuat untuk membawa rakyat Indonesia pada kesejahteraan yang adil dan merata. Tapi apa yang terjadi saat sekarang? Pandemi, sebuah bencana besar yang tak hanya telah merenggut nyawa orang-orang terdekat kita, tetapi juga berdampak terhadap sendi-sendi kehidupan.

Kini serasa tak disadari sebagai pekerjaan besar yang semestinya diselesaikan oleh segenap bangsa yang diidamkan dalam konsep Trisakti. Berdikari akan muncul tatkala nilai luhur bangsa ini seperti gotong royong tidak runtuh. Berdikari juga akan kokoh ketika Persatuan Indonesia disadari penuh dengan jiwa yang mulia sehingga tak akan pernah muncul muara saling hajar menghajar, tentang menendang dengan penuh kejam manakala bencana seharusnya bukan menjadi permasalahan serius bagi bangsa yang kuat dan mandiri.

Entah formula apa yang bisa kembali membangkitkan ajaran mulia bapak bangsa, Bung Karno sehingga di masa mendatang nanti, tak ada lagi kisruh korupsi dari dana bantuan bagi rakyat yang berhak. Dalam pendistribusian Bantuan Sosial (Bansos), misalnya terutama  yang diperbanyak ketika wabah pandemi ini belum jelas akan beakhir.

Tak perlu saya bahas benar atau salah dalam memberikan skema bantuan, tetapi bahwa  agar uang negara diberikan kepada warga yang berhak menearima, pada prakteknya hingga detik ini masih terus jadi bahan main-main kok. Saya saat ini memang sedang keras menyikapi hal ini di lingkungan tempat tinggal saya. Diawali dari kenyataan yang terdekat yang saya temui. Bantuan sosial dalam bentuk non tunai misalnya, yang kini disebut dengan istilah Bansos Sembako. Bantuan berbentuk uang yang selanjutnya diperoleh warga yang disebut (Keluarga Penerima Manfaat) atau KPM dalam bentuk Sembako, masih belum mencerminkan kebutuhan riil masyarakat dari sisi tujuan kesehatan. Kedua, dari sisi nilai bantuan yang diberikan dengan ketentuan nominal yang sudah diatur, diterimakan dengan nilai yang banyak ditemui tidak sesuai dengan ketentuan harga. Selanjutnya, kualitas, ketapatan waktu serta pelayanan terhadap  para raja si penerima program Bansos Sembako, yaitu para KPM.

Kenyataan itu diperparah dengan tujuan mulia yang tertuan dalam pedoman umum (pedum) pelaksanaan Program Bansos Sembako dimana ada satu point penting yang mulia, yakni menggerakan ekonomi  rakyat kecil dalam bentuk didirikannya sebuah agen untuk pengambilan bahan pangan oleh KPM yang dinamakan agen E Warong.  Fakta yang tersaji di sejumlah daerah termasuk di Banyumas, tujuan munculnya pergerakan ekonomi rakyat dengan berdirinya agen e warong sebagai penyedia bahan pangan yang diperoleh KPM, ternyata banyak ditemui kejanggalan. Misalnya, agen e warong yang ditunjuk oleh bank penyalur (salah satu dari HIMBARA), banyak sekali ditemui mereka adalah para nasabah dari bank yang ditunjuk atau nasabah setia dari bank tersebut sehingga ketika bergulir program semacam ini, maka bank akhirnya menujuk si nasabah sebagai agen e warong.

Hal ini menjadi persoalan karena si nasabah bukanlah seorang pemilik warung sembako, bahkan sama sekali tak mengetahui tentang usaha tersebut. Sedangkan warung sembako kecil di desa-desa, justru mereka bukan menjadi pilihan dari bank penyalur, meski potensi pergerakan ekonomi jelas akan lebih baik ketika penunjukkan seperti agen e warong dipilih dari usaha rakyat yang sebelumnya telah eksis.

Dari banyak hal yang banyak segera dibenahi, sesuatu yang begitu miris justru dialami masyarakat pedesaan yang sampai saat ini masih banyak menggantungkan mata pencahariannya sebagai petani. Terutama, di wilayah seperti Banyumas, petani beras jumlahnya bukan angka yang kecil di setiap pedesaan, entah itu mereka yang merupakan petani dengan lahan milik sendiri, petani penyewa sampai para petani buruh (petani pengarap). Kenapa kok menjadi miris?  Jadi, seharusnya,  dengan dilaksanakannya pendistribusian program Sembako dimana salah satu komoditi dari bahan pangan yang diperuntukkan bagi KPM adalah beras, logikanya para petani beras menjadi ikut bergerak ketika tujuan agar dijalankannya program Bansos mampu mengerakkan perekonomian rakyat.

Tapi apa yang terjadi? Justru sebaliknya! Tatkala distribusi beras ke desa-desa mereka melimpah setiap bulannya, gabah yang mereka panen justru entah harus dijual kemana karena para penyedia entah mendapatkan beras yang diberikan kepada tetangga mereka itu berasal darimana. Di situlah, hukum pasar berlaku. Tatkala petani menghadapi kenyataan seperti ini,  tawaran pembelian gabah barulah datang yang jelas ketika bukan langsung dari penyedia yang konon adalah para pemain besar komoditi yang menjadi makanan utama masyarakat Indonesia itu, biasanya yang membeli adalah sekelompok orang yang mereka biasanya mengatasnamakan pengusaha atau ada yang dikenal dengan julukan juragan sembako.

Nah, apa yang dialami petani ini tampaknya akan berlangsung tidak sebentar.  Kami sebagai kelompok anak muda yang mendapati hal ini pun mencoba untuk menawarkan kerjasama dengan agen, dan tujuan dari kami pertama yaitu tentang gabah petani yang tak terbeli tadi, kedua mencoba agar masyarakat di desa dalam konteks ekonomi bisa tetap melestarikan tradisi luhur masyarakat tanah air, yakni gotong royong. Ya, ketika petani bekerja, maka agen e warong pun semestinya bahu-membahu agar supaya bagaimana gabah itulah yang dibagi untuk para KPM. Pun dengan KPM, justru mereka sudah harus bertindak atas apa yang selama ini terjadi tatkala mereka memperoleh pasokan bantuan dalam bentuk Sembako itu dari sisi kualitas bisa terbilang buruk. Biasanya, khusus untuk komoditi beras, tidak jarang KPM mengeluhkan adanya kutu saking jeleknya beras yang mereka terima.

Kang wira Agung pun akhirnya mengeluarkan jurus-jurus kalimat filosofisnya yang erat dengan asal kita, filosofi Jawa-nya.  Kata Kang Wira, sejatinya petani kita tidaklah bodoh. Justru mereka telah menghitung, semisal ketika mereka diminta untuk menjadi petarung maka mereka sudah matang memikirkan logistik untuk dapur masing-masing.

“Karena setiap mereka ketika sudah berubah menjadi seorang petarung maka kepada keluarga si petani akan menyampaikan pesannya, PAMIT MATI UNTUK HARGA DIRI,” begitulah kata Kang Wira.

14 Juli 2021.

Ini adalah karya sang maestro Alm. Sapardi Djoko Darmono. Untuk seluruh sahabat, dari si kecil dan sahabatku yang sudah menjadi Mbah.

 

PULANG DARI PEMAKAMAN TEMAN

Sapardi Djoko Damono

:Wyslawa Szymborska

Belum pasti, Bung, itu proyek besar; janjinya ya begitu, tapi kan bisa saja batal, tergantung.

Gak usah mampir saja ya, Mas, soalnya minggu lalu aku masih

liat ulat itu menjulur-julurkan lidahnya di apel impor yang seperti berdenyut-denyut.

Siapa, sih, yang tadi pidato sesenggukan atas nama keluarga si mati sambil dengan sabar mengelus-elus kepala anak laki-lakinya yang sejak masuk gerbang makam tak henti-hentinya bikin ribut
minta pulang kebelet main game petak umpet dalam gadget yang kemarin dibelinya?

Ya itulah, karena takut didemo si bos kumisan itu gak jad memindahkan saya ke bagian kering meskipun itu yang sejak lama diniatkannya.

Orang muda yang pakai songkok merah agak kegedea merangkul istrinya sambil bisik-bisik untung kita tak mendengar apa yang dibicarakan pasangan yang baru nikah minggu lalu itu. Pak Kiai bilang kita ini sudah dekat kiamat soalnya cuaca begini-begini saja akhir-akhir ini dan anak saya masuk-keluar-masuk rumah sakit; berat, Mas, meskipun kami sudah punya askes.

Yang berjalan pincang-pincangan memakai tongkat rotan – yakni aku? – tumben kali ini sama sekali tidak mau bicara tampaknya bertanya-tanya kepada dirinya sendiri kenapa, sih, teman yang baru dimakamkan itu sampai hati bener mendahului dirinya.

Yang tadi kita timbuni tanah itu tentunya sudah bahagia, makanya tidak bakal mau pulang ke rumah lagi dan ketika diturunkan ke liang lahat tadi saya liat dia tersenyum meskipun sudah disumpal kapas, Bapak liat gak?

Angga Saputra

Pencari Tahu Jurnalisme
Penanggung jawab indiebanyumas.com

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

PPKM Darurat, Volume Sampah Liar Ikut Menurun

Selanjutnya

Akal-akalan Tiga Tempat Karaoke di Banjarnegara Saat PPKM Darurat, Begini Ceritanya

TERBARU

RAMADAN INI BELAJAR DARI PHILIP K HITTI

RAMADAN INI BELAJAR DARI PHILIP K HITTI

Kamis, 19 Februari 2026

Alif Satria Bahari, Penembak Muda Banyumas Melangkah ke Pelatnas Asian Games 2026

Alif Satria Bahari, Penembak Muda Banyumas Melangkah ke Pelatnas Asian Games 2026

Kamis, 19 Februari 2026

Jam Kerja ASN Banyumas Selama Ramadan 1447 H/2026 M: Senin-Kamis hingga Pukul 14.45 WIB

Jam Kerja ASN Banyumas Selama Ramadan 1447 H/2026 M: Senin-Kamis hingga Pukul 14.45 WIB

Kamis, 19 Februari 2026

POPULER BULAN INI

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Jumat, 6 Februari 2026

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Selasa, 3 Februari 2026

Prosesi Kirab Pusaka Hari Jadi Banyumas ke-455 Digelar Minggu, Ini Rutenya

Prosesi Kirab Pusaka Hari Jadi Banyumas ke-455 Digelar Minggu, Ini Rutenya

Jumat, 13 Februari 2026

Selanjutnya

Akal-akalan Tiga Tempat Karaoke di Banjarnegara Saat PPKM Darurat, Begini Ceritanya

Dikira Meninggal Terpapar Covid, Ternyata Mabuk Miras

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com