HUMANIORA, indiebanyumas.com– Sudah terhitung 9 bulan Panti Rehabilitasi Rehabiliasi Gangguan Jiwa dan Narkoba Panti Tanbihul Ghofilin di Cilacap mengurus sebanyak 40 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang datang dari Bandung, Jawa Barat.
Mereka, para ODGJ tersebut, bukan datang atas kemauan sendiri. Mereka dikirim oleh Satgantar Dinas Sosial Kota Bandung Provinsi Jawa Barat. Sayanya, pihak Satgantar Dinsos Kita Bandung Jabar hingga hari ini belum memberikan kontribusi apapun kepada pihak Panti Rehabilitasi Jiwa dan Narkoba yang beralamat di Desa Kalisabuk Kecamatan Kesugihan Cilacap tersebut.
Dalam video berdurasi 5 menit 17 Detik yang dikirimkan melalui WhatsApp Group MBPO oleh Wahyu Sapto, pimpinan Panti Rehabilitasi Jiwa dan Narkoba Tanbihul Ghofilin, Ustad Darsono mengungkapkan, sejak para ODGJ dikirimkan ke panti 9 bulan lalu, pihak Satgantar Dinsos Jabar tidak pernah ada upaya untuk memberikan bantuan pembiayaan.
“Saya tidak ingin terkenal atau tenar, ini kenyataan. Tapi saya butuh orang yang peduli untuk menjembatani video ini. Agar sampai kepada bapak PJ Gubernur Jawa Barat dan Menteri Sosial Ibu Risma peduli terhadap persoalan ini,” kata Ustad Darsono.
Dalam video itu, Ustad Darsono menyampaikan, sudah sembilan bulan pantinya dititipi oleh pihak Satgantar Dinsos Jawa Barat tetapi tidak sepeserpun pihaknya menerima bantuan dari mereka. Padahal, dalam penitipan ODGJ itu, Satgantar Bandung telah menyatakan ada rencana pembiayaan dari Satgantar selama perawatan di panti tersebut.
“Setelah saya telusuri ODGJ yang ada di sini merupakan keluarga tidak mampu yang membutuhkan bantuan, namun oleh Satgantar Bandung mereka malah dimintai untuk pembiayaan perawatan mulai dari 3 sampai 15 juta rupiah. Nah kami jangankan 1 juta, 100 ribu saja kami tidak pernah menerima,” kata Ustad Darsono.
Dia mengungkapkan, selama merawat ODGJ, diantara mereka yang telah sembuh, ada yang sedang sakit bahkan juga ada yang telah meninggal dunia. Semua biaya atas perawatan terhadap ODGJ tersebut ia keluarkan dari saku sendiri tanpa sepeserpun memperoleh bantuan dari Satgantar Bandung.
“Saya sangat sedih, karena kami butuh makan, butuh biaya untuk listrik dan lainnya tetapi sampai sekarang uang dari Satgantar Bandung itu tidak pernah sampai,” ungkapnya.
Ustad Darsono menambahkan, pihaknya sudah pernah mencoba untuk menghubungi Kepala Dinas Sosial Bandung maupun Kepala UPT, namun tidak memperoleh respon atas keluhan yang disampaikan.
“Bahkan saya sampai merengek-rengek minta tolong, tapi tetap tidak ada respon,” kata Ustad Darsono menandaskan.
Angga Saputra