INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

(6) BUKU INDUK HERBAL DAN REMPAH

Jumat, 19 Januari 2024

Prof Yudhie Haryono PhD
CEO Nusantara Centre

500 Tahun lalu, para begundal kolonial merampok rempah kita untuk hidup di negara mereka. 400 Tahun lalu, para penjajah merampok herbal kita untuk menyehatkan istri, gundik dan keturunan mereka.

300 Tahun lalu, para perampok asing mencuri SDA kita untuk membangun kota-kota mereka. 200 Tahun lalu, para penjahat memerkosa kawan-kawan kita untuk menegaskan era perbudakan internasional. 100 Tahun lalu, mereka menipu kita dengan kurikulum, ilmu, agama dan kebudayaan palsu demi sesembahan dan inlanderitas kita terhadap mereka.

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertisement Advertisement Advertisement

Mengulang 500 tahun lalu, para penjajah kini sibuk memetakan harta karun kita yang tak habis-habis dalam rangka memastikan 1000 tahun penjajahan ke depan. Mereka bersiap menjarah masa depan kita!

Kita tahu, sejarah gigantik herbal dan rempah pada masa purba akan kembali muncul. Media internasional telah memunculkan hasil riset mengenai komoditas itu. Bedanya, bila dulu informasi khasiatnya masih campur aduk dengan mitos, kini akan dipastikan manfaatnya bagi tubuh dan peradaban dunia. Herbal-rempah akan masuk dalam piramida makanan manusia yang kongkrit dan jenius.

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca

Perburuan herbal-rempah telah mengubah dunia. Globalisasi awal terjadi karenanya. Pelayaran-pelayaran mengelilingi dunia dilakukan karena memburu komoditas ini. Sejarah itu terjadi berabad-abad lalu. Penjajahan, penguasaan wilayah dan perbudakan muncul karenanya. Kini arus besar untuk menguasainya sudah mulai muncul kembali.

Lalu, di manakah kita dan mau apa dengan masa depan ini?

Mari mulai satu-satu. Pertama, lahirkan revolusi kesadaran dan pengetahuan. Peta pengetahuan ini termasuk paham bahwa kita adalah negara terkaya jenis tanaman obat (rempah dan herbal). Lebih dari 300 jenis tanaman potensial untuk dimanfaatkan sebagai ramuan obat, senjata dan pertahanan. Yang paling dahsyat sesungguhnya nilai komersilnya. Dalam riset yang kami lakukan, potensi sumberdaya ini sekitar 1000 Triliyun per tahun. Plus, program ini mampu menyerap 3 juta tenaga kerja.

Sebagian khasiat dari tanaman-tanaman itu sudah dibuktikan melalui uji klinis dan hasilnya positif. Memang, tidak semua bagian dari tanaman obat bisa dimanfaatkan sebagai bahan ramuan obat. Misalnya, tanaman jahe, kunyit, dan temulawak hanya bagian rimpang-nyalah yang berkhasiat. Nanas, jeruk nipis, dan belimbing lebih banyak dimanfaatkan buahnya untuk obat. Bagian tanaman berguna lainnya di kulit, batang, akar, biji, getah dan daun.

Di atas segalanya, herbal dan rempah ini melimpah dan mengandung antioksidan, analgesik, antiseptik, antikangker, antikhamir, antispasmodic dan stimulan.

Itulah mengapa, ketika beratus tahun lalu dikonsumsi bangsa penjajah, keturunan mereka menjelma menjadi kuat, cerdas dan militan. Selebihnya rakus dan tak bertobat.

Kedua, lakukan penguasaan, pembibitan dan industrialisasi. Di sini argumentasi peta jalan bin buku babon herbal dan rempah menemukan basisnya. Buku ini akan memandu kita bagaimana mengelola herbal dan rempah bukan hanya sebagai konsumsi tapi juga alat perang di masa depan. Ingat bahwa, temulawak, kunyit, barus, cengkeh, jahe, belantus, kemenyan, kapur, gambir, damar, pala, mrica–untuk menyebut beberapa komoditas dapat dibuat sebagai pendukung lahirnya generasi super canggih dan bahan perang.

Ketiga, rerutenisasi maritim. Kita tahu bahwa rute pangembangan dan perampokan harta ini di masa lalu adalah via lautan sebagai antitesa jalur sutra. Maka menghidupkan jalur rempah-herbal baru menjadi penting yang dikuatkan dengan udara. Poros maritim dan poros dirgantara harus dikerjakan bersama secara khidmat, fokus dan berkelanjutan siapapun yang di pemerintahan.

Keempat, dalam rangka kendali mutu dan SDA, segera dibuat kampus, litbang, paten dan rumah sakit berkurikulum herbal dan rempah. Kurikulum ini menyangkut pola umum yang membuat masa depan kita, tahu AGHT (ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan) bagi tumbuhnya generasi emas yang mampu memenangkan perang herbal melawan kimia di wilayah medis (medical war). Ingatlah bahwa for fighting nation there is no journeys end.

Bukankah kita sdng menghadapi perang kecerdasan? Proxy war, asimetric war, currency war, agency war dan medical war adalah bentuk riilnya. Tanpa kesadaran ini herbal-rempah hanya jadi alat sesaji dan perdukunan, seperti selama ini.

Kelima, mentradisikan herbal dan rempah sebagai gaya hidup. Inilah gaya simultan yang berkaidah “dengan menuju ke laut, maka sungai setia pada sumbernya.” Semesta, pro lingkungan dan sehat adalah hasilnya.

Dengan kesadaran akan lima hal di atas, kita akan menjalankan revolusi konstitusi yang akan menuntaskan problem utama Indonesia: kemiskinan, kebodohan, kepengangguran, ketimpangan, kesakitan, ketergantungan, keterjajahan, kekalahan dan kepicikan (9K).

Tentu saja itu tak cukup dengan pidato seperti Susilo dan blusukan model Joko. Ini perang kecerdasan. Tapi ingat, kecerdasan tanpa kapital, omong kosong (mirip Abdurahman dan Amin). Sedang kapital tanpa kecerdasan, mubazir (mirip Susilo dan Joko). Singkatnya, kita harus lebih meraksasa dan berdentum laksana letusan Tambora.(*)

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Bagi-bagi Rice Cooker untuk Wilayah Jawa-Bali, Warga Banyumas Mengaku Tak Kebagian

Selanjutnya

Imparsial Luncurkan Buku Penculikan Bukan untuk Diputihkan, Kenang Jasa 13 Aktivis yang Hilang

TERBARU

Hilal Ramadan 1447 H Masih di Bawah Ufuk, Kemenag: Mustahil Terlihat

Hilal Ramadan 1447 H Masih di Bawah Ufuk, Kemenag: Mustahil Terlihat

Selasa, 17 Februari 2026

Sambut Ramadan 1447 H, Wabup Banyumas Dwi Asih Lintarti Ziarah ke Makam Orang Tua

Sambut Ramadan 1447 H, Wabup Banyumas Dwi Asih Lintarti Ziarah ke Makam Orang Tua

Selasa, 17 Februari 2026

Bekas Rumah Dinas Rutan di Banyumas Disulap Jadi Kafe Pemberdayaan Warga Binaan

Bekas Rumah Dinas Rutan di Banyumas Disulap Jadi Kafe Pemberdayaan Warga Binaan

Selasa, 17 Februari 2026

POPULER BULAN INI

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Jumat, 6 Februari 2026

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Selasa, 3 Februari 2026

Prosesi Kirab Pusaka Hari Jadi Banyumas ke-455 Digelar Minggu, Ini Rutenya

Prosesi Kirab Pusaka Hari Jadi Banyumas ke-455 Digelar Minggu, Ini Rutenya

Jumat, 13 Februari 2026

Selanjutnya

Imparsial Luncurkan Buku Penculikan Bukan untuk Diputihkan, Kenang Jasa 13 Aktivis yang Hilang

Mahfud MD Mengomentari Aksi carok Hasan Tanjung-Mawardi Melawan 5 Orang Yang Berujung 4 Lawannya Tewas

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com